Semalam Sebelum Terima Rapor

Undangan untuk Wali Murid

Esok adalah hari di mana saya akan menerima laporan hasil belajar saya selama satu semester terakhir. Deg-degan? Jujur saja, nggak begitu. Saya nggak begitu khawatir dengan nilai-nilai yang tercetak di kertas esok hari. Saya lebih khawatir pada perasaan orang tua saya saat pertama kali membuka laporan hasil kegiatan saya yang berkedok sekolah itu. Takut dimarahi sih nggak, ya. Tapi pasti sedih aja kalau sampai orang tua kecewa dengan hasil saya yang sebenernya sangat amat mereka harapkan.

Selama SMA, tiap orang tua saya mengambil rapor, saya pasti ikut berangkat. Berbeda dengan waktu SD dan SMP dulu. Malahan, waktu SD dulu, entah kelas berapa saya lupa, saya sendiri yang mengambil rapor saya. Bukan karena wali murid yang berhalangan hadir, namun memang yang diharuskan berangkat untuk mengambil rapor adalah sang siswa sendiri.


Rencananya yang mengambil rapor saya besok adalah Bapak saya. Tadinya sih Bapak bingung akan mengambil rapor siapa dulu, soalnya adik saya yang duduk di bangku SMK juga terima rapor esok hari. Namun ternyata yang harus mengambil rapor adik saya adalah dia sendiri.

Ini metode yang aneh menurut saya. Seharusnya orang tua dipanggil untuk mengambil rapot anaknya untuk mengetahui seberapa jauh kemajuan si anak di sekolah. Orang tua diharapkan mengevaluasi cara belajar si anak agar hasil belajarnya meningkat di semester depan. Lha kalau yang mengambil rapor itu siswa sendiri?! Mana tahu dia cara menjadi lebih baik? Siswa itu pasti nggak akan berpikir untuk memperbaiki kesalahannya. Dan pastinya lagi siswa itu nggak akan begitu takut dimarahi oleh orang tua lagi.

Ngomong-ngomong, tadi siang saya baru aja menonton ulang film Sang Pemimpi. Film adaptasi dari novel bestseller karya Andrea Hirata itu tak bosan-bosannya saya tonton. Kisah si Ikal dan Arai itu selalu sukses membuat saya menangis.

Kira-kira di pertengahan film, diceritakan bahwa di sekolah Ikal akan diadakan pengambilan rapor. Pak Mustar, kepala sekolah Ikal, memiliki cara unik dalam prosesi pengambilan rapor. Beliau menyediakan kursi-kursi yang berderet di aula; yang dimaksudkan bagi siswa untuk mempertanggungjawabkan tingkah siswa selama belajar di sekolah. Apakah mereka menempatkan orang tua mereka dengan terhormat di deretan depan, atau terpuruk di kursi belakang.

Kursi keramat.

Maap blur -_-

Menurut saya ide ini menarik sekaligus menyeramkan, ya. Secara nggak langsung kita dipacu untuk bisa bersaing dengan teman-teman satu sekolah agar mendapatkan hasil yang baik agar bisa menempatkan orang tua di deretan terdepan. Namun, di sisi lain, kemampuan seseorang itu berbeda-beda. Nggak bisa hanya diukur dengan beberapa mata pelajaran, apalagi hanya dites teori. Lagipula bagaimana jika kita sudah berusaha dengan sangat amat maksimal, namun masih ada kawan kita yang lebih tinggi hasilnya?! Tentu ini nggak adil.

Lebih lagi, saya nggak setuju dengan sistem ranking-meranking itu. Saya tegaskan lagi, kemampuan orang itu berbeda-beda. Namun stigma di masyarakat memang sudah terbentuk bahwa anak pasti pintar kalau masuk sepuluh besar. Yaa, kalau mereka benar-benar pintar sih nggak apa-apa. Nah, kalau ternyata cuma beruntung saja? Ya pasti tetap dianggap pintar ya. Tidak penting siswa itu ranking berapa, yang penting nilainya meningkat dari semester yang lalu.

Apapun itu, saya tetap berharap semoga rapor saya dan teman-teman semua baik dan memuaskan. :) Nggak terasa, sudah waktunya bagi saya terima rapor untuk terakhir kalinya di SMA. Rapor semester lima semoga membawa keberuntungan, amin. :)

Komentar

  1. sama aku juga sering ngalamin kayak gitu

    BalasHapus
  2. hari ini saya bagi rapot semester ganjil saya di sma kelas 10.. takut banget nilai merah.... dimarahin bapak

    BalasHapus

Posting Komentar

Berkatalah yang baik atau diam.

Postingan Populer