Laman

Senin, 23 Desember 2013

Renungan Hari Ibu



Mama.. Mama..
You know I love you
Oh, you know I love you
Mama.. Mama..
You’re the Queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama, I just want you to know
Loving you is like food to my soul
(Song For Mama – Boyz II Men)

Setiap tahun setiap tanggal 22 Desember kita selalu memperingati Hari Ibu Nasional.  Hari itu selalu diwarnai tangis haru, rasa rindu, dan ucapan-ucapan selamat kepada Ibu.

Ibu adalah sosok yang sangat berjasa bagi saya. Walau saya tidak dibesarkan dan dirawat sepenuhnya dengan tangan Ibu, tapi tetaplah Ibu yang berjuang mempertahankan saya selama kurang lebih sembilan bulan hingga akhirnya saya dapat melihat dunia. Saya dirawat oleh Ibu saya hanya sekitar satu setengah tahun, hingga akhirnya adik saya menyusul saya lahir ke dunia kemudian saya diasuh oleh Nenek saya sampai sekarang. Ironis. *nangis*

Kadang saya berpikir, saya jauh dari Ibu karena adik, saya berpisah dari Ibu karena adik. Semua gara-gara adik saya lahir. Tapi sekarang saya tepis pikiran tersebut. Saya sadar itu semua kehendak Allah SWT. Dia selalu tahu apa yang terbaik untuk umatnya. Adik saya juga karunia dari-Nya untuk kedua orang tua saya, seperti saya. Sekarang saya sering menyesal pernah memiliki pikiran jahat itu.

Walaupun saya sekarang tinggal jauh dari Ibu, tapi saya sering bertemu Ibu. Ibu saya malah mendapat pekerjaan di dekat tempat tinggal Nenek saya. Jadi setiap hari kerja saya bisa bertemu Ibu :’)

Ibu adalah sosok suri tauladan yang baik bagi saya. Walaupun hubungan saya dan Ibu saya sedikit jauh, yah, tapi beliau selalu memberi contoh yang baik bagi saya. Seperti Ibu yang pandai memasak makanan apa saja, seperti Ibu yang pandai bergaul dengan lingkungannya, seperti Ibu  yang mendapat pekerjaan yang baik padahal tidak sesuai dengan pendidikan yang pernah ditempuhnya di perguruan tinggi. Ibu saya adalah sosok yang supel, pekerja keras, dan tidak mudah menyerah. Terkadang hidup tidak selalu menurut apa yang kita inginkan. Apa yang pernah kita dapatkan tidak selalu menjadi yang bisa kita berikan. Hidup harus berjalan walaupun tidak sesuai kehendak kita. Life must go on.

Tanggal 22 Desember bukan hanya perayaan Hari Ibu bagi Ibu saya, namun juga peringatan hari lahir beliau. Ya, Ibu saya lahir tanggal 22 Desember! Bisa saya bayangkan empat puluh lima tahun yang lalu ketika Ibu saya lahir ke dunia, Nenek saya merasa menjadi Ibu yang sesungguhnya. Walaupun saat itu Nenek saya sudah melahirkan dua anak, namun melahirkan seorang anak yang pas dengan momen Hari Ibu akan menimbulkan perasaan bahagia tersendiri.

Namun hidup tetaplah hidup. Ada suka, ada duka. Ada yang datang, ada yang pergi. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi setelah kita menghembuskan nafas saat ini.

Pagi hari kemarin, tanggal 22 Desember, seorang Ibu tetangga saya meninggal dunia. Seorang wanita yang dianggap ibu oleh Ibu saya. Seorang Ibu yang bisa mengerti Ibu saya seperti Nenek saya. Ibu saya menangis ketika jasad beliau dikuburkan. “Beliau adalah Ibu yang benar-benar Ibu,” begitu kata Ibu saya.

Seperti yang dapat kita lihat, peran Ibu sangat besar bagi kita. Ibulah yang menahan lelah membawa kita selama sembilan bulan dalam kandungannya, Ibulah yang menahan sakit ketika kita lahir ke dunia, Ibulah yang selalu sabar merawat kita, menuruti segala keinginan kita. Ibu selalu bisa berkata ya dalam setiap permintaan kita. Ibu yang selalu menuntun kita dalam setiap hembusan doanya. Ibu yang tidak akan pernah menunjukkan rasa bosannya, rasa lelahnya, dan keluhannya di depan kita. Ibu yang selalu mengusahakan apa yang kita inginkan. Namun apa yang kita berikan? Jujur saja, saya juga belum dapat sepenuhnya berbakti kepada orang tua. Saya pernah membangkang, tidak patuh, bahkan membentak orang tua. Namun sedetik kemudian saya sadar apa yang saya perbuat telah kelewatan. Tidak seharusnya seorang anak menentang orang tuanya, kecuali prinsip orang tuanya memang tidak sesuai dengan agama atau norma.

Ibu adalah sosok wanita yang harus dihargai, dihormati, dan disayangi sepanjang hidupnya. Tanpa beliau, kita tidak mungkin hadir di dunia ini. Perjuangan dan kasih sayang Ibu tidak akan dapat kita gantikan dengan apapun. Seperti kata pepatah, kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Maka dari itu, sayangilah Ibu kita. Jangan pernah sia-siakan waktu jika Ibu masih berada di sisimu, karena jika suatu saat kita jauh dari Ibu hanya sesal dan rindu yang dapat kita rasakan.

Minggu, 22 Desember 2013

Ketika Aku Jauh dari Ibu

Kulangkahkan kakiku menyusuri pinggiran Sungai Thames. Udaranya yang dingin menerpa wajahku. Sesaat aku limbung oleh kekuatan angin yang menghantam tubuhku –mungkin aku bisa jatuh jika tak segera meraih pagar pembatas sungai. Kuhentikan langkahku sejenak. Musim dingin di London begitu menyenangkan. Walau daerah asalku, Yogyakarta, tak memiliki musim dingin, aku mencoba membiasakan diri dengan suhu yang dinginnya tak tanggung-tanggung.
 
Musim dingin.. Desember.. 22 Desember..

Ini kali pertamaku berada jauh dari negeri asalku. Jauh dari kota kelahiran, dari teman-teman, dari keluarga, dari orangtua, dari ibu... Ibu.. Ini juga kali pertamaku melewatkan Hari Ibu tanpa Ibu di sisiku.

Hai, Bu..

Perahu berisi belasan turis melintas di depanku. Dari tempatku berdiri dapat kutangkap ada beberapa bahasa yang tak kukenal mampir di telingaku. Kulihat beberapa pasangan muda saling mendekap menghalau dingin yang semakin menusuk. Beberapa pasangan lanjut usia berpegangan tangan seakan tak ingin kehilangan. Juga seorang anak yang merengek-rengek pada Ibunya minta dibelikan sesuatu. Ah..

Apa kabar, Bu?

Langit London kelabu. Awan bergumul di sepanjang mataku memandang. London muram, tanpa mentari yang menghiasi angkasa. London kelam, tanpa mentari yang menyinari setiap sudut kotanya. Aku juga, Bu. Tanpa Ibu, aku muram. Tanpa Ibu, hatiku kelam. Karena Ibu adalah mentariku..
 
Apa yang sedang Ibu lakukan saat ini?

Serpih-serpih salju kembali turun. Melayang-layang di angkasa, kesana-kemari disapu angin, lalu hinggap di sungai, membaur dengan airnya yang dingin. Kawannya yang lain ada yang jatuh di jalan setapak. Hilang ditimpa jejak-jejak kaki manusia yang menghantam tanpa perasaan. Yang lain singgah di daun dan atap gedung, menyelimuti bangunan hingga berwarna putih seluruhnya. Yang lain tersangkut di topi-topi orang yang berlalu lalang, mendengar setiap kata yang mereka ucapkan.


Apakah Ibu seperti salju itu –bisa mendengar setiap kata yang kuucapkan-?


Aku merindukanmu, Bu. Hingga hatiku tersayat, jantungku bertalu, dan dadaku sesak merasakannya. Aku merindumu. Hingga mataku memburam, air mata menggenang di pelupuk, dan bibir bergetar melafal namamu. Aku merindumu. Hingga kakiku tak kuasa menopang tubuhku yang gemetar dan lenganku lemas tak kuasa menjangkau apapun. Aku lemah, aku muram. Aku lemas seperti kekurangan vitamin D. Aku muram tanpamu, Bu. Aku muram ketika kau jauh dariku. 

Ibu, selamat Hari Ibu dan selamat ulang tahun. I love you.

London, 22 Desember 2028

Rabu, 18 Desember 2013

[Resensi Novel] Melbourne: Rewind







Judul      : Melbourne: Rewind (STPC)
Penulis   : Winna Efendi
Penerbit : GagasMedia
Genre     : Percintaan Remaja
Tahun     : 2013
Tebal      : xii + 328 hlm
ISBN      : 979-780-645-6


♫ Someday we'll know if love can move a mountain
Someday we'll know why the sky is blue
Someday we'll know why I wasn't for you ♫
(Someday We'll Know - New Radicals)

Melbourne. Novel dalam lini STPC (proyek GagasMedia-Bukune) keenam yang saya baca. Memang nggak semua novelnya saya review sehabis selesai baca, nggak sempat. Keburu diminta yang punya, keburu dipinjam teman, keburu ada kerjaan lain. Maklum masih sekolah, harus membagi waktu. Novel Melbourne inipun bukan milik saya. Saya pinjam dari teman sekolah saya. Saya memang nggak modal.

Sebenarnya saya sudah cukup mengenal novel Melbourne sejak bulan November lalu. Tadinya saya ingin membelinya untuk melengkapi koleksi. Tetapi saya mengurungkan niat saya karena uang saya nggak cukup karena bertabrakan dengan novel London yang lebih menarik perhatian saya. Saya pernah meresensinya di sini. Maklum, uang saku anak sekolah hanya pas-pasan. Eh, begitu tau ada seorang teman yang punya, saya langsung pinjam saja. Nggak tahunya, saya menyesal juga nggak beli novel ini. -_-

Jujur saja, ini adalah novel karya Winna Efendi pertama yang saya baca. Saya sejujurnya sudah mengenal Winna Efendi sejak lama, banyak yang berkata ia adalah penulis dengan karya-karya yang sangat bagus. Tapi saya belum pernah membaca karya lainnya. Bahkan Refrain yang sudah difilmkan pun belum saya baca. Habis nggak ada yang meminjamkan saya novelnya. Katrok, ya -_-

Novel ini menceritakan tentang dua orang anak manusia yang pernah menjalin hubungan, lalu memutuskan berpisah, kemudian dipertemukan kembali dengan kondisi yang berbeda -dengan latar kota Melbourne. Laura, seorang gadis penyiar radio dengan selera musik yang berbeda dengan kebanyakan orang, dan Max, seorang laki-laki yang punya obsesi berlebihan dengan cahaya. Laura sebenarnya adalah seorang lulusan akutansi, namun ia lebih memilih menjadi freelancer, menjadi apa saja yang sesuai dengan kehendak hatinya, menjadi penyiar, penulis di majalah, penerjemah, dan pekerjaan menyenangkan lainnya. Sedangkan Max, ia adalah seorang light desainer untuk konser-konser.

Mereka dipertemukan oleh sebuah walkman tua. Laura kehilangan walkman-nya dan Max yang mencurinya menemukannya. Berawal dari ngopi bareng di sudut Prudence, akhirnya mereka terbiasa menghabiskan waktu bersama. Akhirnya mereka memutuskan untuk berpacaran beberapa minggu kemudian. Namun akhirnya hubungan mereka berakhir yang disebabkan oleh obsesi Max terhadap cahaya. Setelah itu mereka berpisah, Max pergi ke luar negeri dan Laura tetap tinggal di Melbourne. Kemudian mereka dipertemukan kembali setelah enam tahun berkelana di kehidupan masing-masing. Mereka bertemu, berteman lagi, dan menjalani rutinitas seperti dulu, seperti saat semuanya belum berakhir. It's weird, I know. Keduanya menyadari bahwa tidak ada mantan yang jadi teman. Semuanya pasti sudah berbeda. Hingga salah seorang dari mereka mengakui bahwa di hatinya masih tersimpan rasa yang tak pernah hilang, rasa seperti dulu. Namun justru pengakuan itulah yang semakin meregangkan hubungan mereka.

Saya menyesal nggak jadi membeli novel ini. Padahal isi novelnya bagus sekali. Plotnya memang sederhana, namun Winna Efendi mampu mengemasnya dengan baik menurut saya. Setiap kata yang dipilihnya mampu membekas di hati saya, ngena banget. Penjelasannya rinci, namun menurut saya tidak bertele-tele. Good job, Winna! Di dalam novel ini juga banyak lagu-lagu yang mengiringi perjalanan Max dan Laura.

Tapi seperti novel STPC terbitan GagasMedia lain, cover novel ini kurang menarik. Hanya warna kuning dengan dihiasi sedikit motif yang merepresentasikan Suku Aborigin di Australia. Namun begitu tahu bahwa penulisnya adalah Winna Efendi, saya yakin novel ini akan menarik pembeli.

Ada banyak kalimat yang menurut saya ngena banget di hati saya. Sebagian akan saya cantumkan di bawah. Masih banyak lagi sebenarnya. Namun karena novenya keburu dipinjam orang, akhirnya saya hanya mengutip beberapa ini :
  • Masa lalu selalu memiliki momen-momen tersendiri untuk membayangimu, lalu mengingatkanmu pada waktu yang kurang tepat. Membuatmu bertanya-tanya, apakah kamu sudah membuat keputusan yang benar? Kadang kala jawabannya adalah ya, dan kau rela bergerak maju tanpa sesal, kadang jawabannya adalah tidak. -hlm 22-
  • Ironisnya lagi, masa lalu punya cara tersendiri untuk mengejutkanmu, tanpa pertanda. -hlm 24-
  • Kadang lebih nyaman membicarakan cinta, ketika kamu nggak lagi bersama.
  • "Dalam hidup ini lo nggak selalu bisa dapetin apa yang lo mau, orang-orang yang lo sayang nggak bisa selalu punya perasaan yang sama. Karena itu gue percaya, akan selalu ada orang-orang lain yang bisa memberikan bentuk kebahagiaan lain." Laura. -hlm 80-
  • Nyaman adalah berbagi waktu tanpa merasa canggung. Nyaman adalah menikmati keberadaan masing-masing walau yang dapat diberikan kepada satu sama lain hanyalah kehadiran itu sendiri. -hlm 94-

Selasa, 17 Desember 2013

[Cerpen] Cokelat Payung



COKELAT PAYUNG
Karya : Lajeng Padmaratri

            Aku berjalan melewati koridor menuju kelasku. Bersama sebagian besar murid di SMA-ku, kami berbondong-bondong berjalan cepat menuju kelas masing-masing. Hari ini adalah hari Senin, jadi aku buru-buru menuju kelas untuk meletakkan tasku untuk mengikuti Upacara Bendera di lapangan sekolah.
            “Mala! Akhirnya datang juga! Kukira kamu telat,” sapa Keyna dengan senyum. Ia telah duduk di bangku barisan kedua dari meja guru.
            “Hai, Key!” Aku nyengir lebar.
            Keyna balas nyengir. Kedua matanya hampir hilang karena ini, namun digantikan oleh munculnya dua lesung pipi manis di pipinya. Rambutnya yang lurus terurai di punggungnya. Aku pernah curiga dia orang Cina -walaupun kulitnya tidak seputih orang Cina- namun dia selalu bilang tidak. Jangan menilai orang dari luarnya, katanya saat pertama kutanyakan hal itu padanya.
            Aku mengenal Keyna saat hari pertama masuk SMA. Saat itu hari Senin dan juga hari pertama MOS. Sialnya, aku menjadi bulan-bulanan senior karena tidak membawa salah satu perlengkapan untuk MOS. Senior tak henti-hentinya menyuruhku ke depan barisan untuk sekadar menyuruhku berdiri menghadap matahari, menghukumku, atau yang lebih parah mempermalukanku. Yah, dihukum menurutku lebih baik daripada dipermalukan..
            Sampai tiba saatnya kado silang. Kado silang harus dibungkus dengan kertas koran agar tidak terlalu ketahuan siapa pengirimnya. Di dalamnya, kita harus mengisi dengan makanan kecil seharga lima ribu rupiah. Berhubung aku adalah orang yang ingatannya sudah seperti nenekku, aku lupa mempersiapkan kado silang ini pada hari sebelumnya. Alhasil pagi-pagi sekali sebelum MOS aku mampir ke minimarket dan membeli makanan seadanya dan aku bungkus dengan koran seadanya pula.
            Sekarang di depanku tergeletak sebuah bungkusan kado silang yang dibungkus amat rapi –yah, jauh lebih rapi dengan bungkusanku yang tak berbentuk- setelah senior membagi kado silang secara acak. Kubuka kertas korannya perlahan menurut cara si pembungkus membungkusnya. Aku menghargai hasil kerjanya, jadi aku tak ingin bungkusnya sampai rusak saat aku membukanya. Kubuka kardusnya, kuintip sedikit, dan aku terperangah. Cokelat payung!! Aku suka sekali cokelat ini. Lalu kubuka kardus itu lebar-lebar dengan cepat. Di sana ada juga sekitar dua atau tiga cokelat ayam jago, sebungkus permen cicak, serenteng permen karet Lotte, sebungkus Tini-Wini-Biti, dan sebungkus wafer Superman. Aku melongo selama beberapa saat melihat jajanan masa kecilku dulu, hingga cowok di sebelahku bersendawa, rupanya ia telah menghabiskan makanan kado silangnya –bahkan sebelum aku menyentuh makananku. Siapa pemilik kado silang ini sebelumnya, ya? Bagaimana ia bisa mendapatkan jajanan-jajanan ini, yang notabene adalah kesukaanku saat kecil?
            Tiba-tiba seorang senior mendekat padaku, mengecek satu persatu kado seakan mengecek jika ada yang memberi minuman sachet. Ia juga terperangah. “Wow! Cokelat payung dan permen cicak! Ini kan jajanan waktu kecil. Siapa yang membungkusnya? Angkat tangan!” Kakak seniorku itu menatap juniornya satu persatu. Seorang gadis bermata sipit dan berambut lurus beberapa baris di depanku mengangkat tangan. Seniorku melihatnya dan tersenyum. “Kreatif banget sih, kamu! Bagus! Kamu bebas hukuman hari ini,” kata kakak seniorku yang cantik disambut huu-huu dari teman-teman baruku yang lain. “Namanya siapa?” tanya seniorku lagi. “Keyna,” jawab gadis yang memberiku kado tadi. Sejak hari itulah aku menerornya dengan terus bertanya di mana ia mendapat makanan-makanan itu.
            “Ke lapangan, yuk, Mal?” suara Keyna membuyarkan lamunanku tentang perkenalan kami. “Revan udah di sana loh, tuh tasnya udah ada.” Aku melirik bangkunya. Benar! Tas milik Revan sudah ada di atas kursinya. Segera saja kutarik Keyna menuju lapangan sekolah.
            Mataku jelalatan mencari Revan di lapangan sekolah yang penuh murid dari kelas satu sampai kelas tiga meski bel belum berbunyi. Tak susah menemukan sosoknya. Badannya yang tinggi tegap hasil latihan futsal, rambutnya yang dipotong pendek rapi, kulitnya yang gelap manis, serta senyumnya yang mempesona mampu meluluhlantakkan hati seluruh wanita di sekolah ini. Sejak hari pertama masuk SMA pula aku sudah kepincut dengannya. Yah, mungkin seluruh cewek angkatanku –dan mungkin juga seniorku- juga kepincut padanya. Berkat Keyna, yang ternyata teman SMP Revan dulu, aku jadi bisa mengenalnya lebih dekat –menurutku sih. Mungkin karena telah 3 tahun menatap wajah Revan dengan kenyang, maka Keyna tidak gila-gila amat jika Revan berada di sekitarnya.
            “Mal, besok Revan ultah loh,” Keyna menyenggol tanganku, seakan mencegahku meneteskan liur jika kelamaan menatap Revan.
            “Iya, Keyna! Aku ingat. Nih, aku bikin pengingat di handphone-ku,” aku menunjuk kalender di ponselku. “Kasih kado apa, ya?” Aku yakin, besok pasti Revan kebanjiran kado dari seluruh fansnya.
            “Besok pasti dia kebanjiran hadiah,” kata Keyna. Aku dan Keyna satu pikiran. Keyna melanjutkan, “Tapi waktu SMP dulu dia nggak sekeren ini. Nggak begitu banyak yang naksir.”
            “Oh, ya? Kamu nggak naksir, Key?” godaku.
            Keyna tersenyum. “Sempet, sih. Tapi buat kamu aja deh,” Mata Keyna bersinar jenaka.

            DERRRR...
            Petir sahut menyahut. Hujan rintik-rintik menjatuhi kepalaku yang baru saja keluar kelas. Kukeluarkan payung lipat dari dalam tasku –aku selalu sedia payung berhubung ini musim hujan. Dengan tangan kiri –tangan kanan pegang payung-, kupeluk sebuah bungkusan kecil. Inilah kado untuk Revan. Aku berjalan menuju gerbang sekolah. Berniat menunggunya di sana.
            Kemarin adalah hari ulang tahun Revan. Ya, aku sengaja terlambat memberinya kado. Kemarin Revan telah dipusingkan dengan bertumpuk-tumpuk kado di bangkunya, jadi aku berniat memberinya sekarang, secara langsung, supaya lebih berkesan. Romantis, kan?
            Aku tersenyum melirik bungkusan kecil di dekapanku. Isinya cokelat payung. Itu ideku, yah meskipun aku mencuri ide Keyna saat MOS, namun Keyna menyetujuinya dengan sangat.
            “Setuju, Mal! Kasih yang banyak! Beli di tokoku aja,” katanya waktu aku mengutarakan ideku. Lalu ia senyam-senyum gaje.
            Sehari setelah MOS itu, Keyna mengajakku ke rumahnya. Di depan rumah Keyna, terdapat sebuah toko yang rupanya menjual jajanan masa kecil. Mengaku sajalah kamu orang Cina, Key, orang tuamu saja punya toko, gumamku dalam hati kala itu. Sejak hari itu pula, aku menjadi pelanggan tetap Keyna. “Jangan bilang siapa-siapa kalo aku yang punya toko ya, Mal, aku males jualan di sekolah,” katanya saat itu, tepat saat aku berniat untuk mengumumkanya pada teman-teman sekelas.
            DEEERRR.. BRESSS...
            Hujan bertambah deras. Aku merapatkan diriku ke dinding gapura.
            “Eh..” kata seseorang di belakangku. Rupanya aku tidak sengaja mendorongnya ke belakang. Aku berbalik.
            Deg! Revan!
            “Eh, Mala. Maaf ya,” Revan tersenyum padaku lalu bergeser ke sebelahku. Aku terpaku. “Hujannya deres banget, ya, Mal. Duh, mana nggak ada ojek lewat. Gimana pulangnya, ya?”
            Satu hal lagi yang membuatku tertarik pada Revan. Walaupun ia orang yang sangat mampu, ia memilih naik ojek atau angkutan umum untuk ke sekolah. Sekarang aku berdoa, agar tidak ada ojek atau angkot lewat, supaya dia lebih lama di sini, supaya aku bisa berduaan.. Aaaaaaa! Gila!
            “Mal?” Revan menatapku. Tangannya melambai-lambai di depan mukaku. Seketika aku tersadar. Film yang sedang kubuat di otakku buyar.
            “Ya, Van?” Revan masih melongo menatapku. Aku tidak tahan lagi ditatap begitu. Kusodorkan bungkusan kecil dari dekapanku kepadanya. “Selamat ulang tahun!” Aku tersenyum. “Maaf, ya, terlambat.”
            Revan menerima pemberianku. Ditatapnya bungkusan itu dengan senyum. “Makasih, ya, Mal.” Lalu mulai dibukanya kado dariku.
            “Wah, cokelat payung! Aku suka banget sama makanan ini,” Revan berseru girang menatap isi kadoku. Ia nyengir padaku. Aku speechless. Jadi dia suka cokelat payung, pikirku, kok sama kaya aku, jangan-jangan aku jodoh Revan, otaku mulai ngaco.
            “Coba aku bisa pakai payung ini, ya! Aku pasti bisa pulang sekarang. Hahaha..” Revan mulai membuka satu cokelat lalu melahapnya.
            “Pulang bareng aku aja, yuk. Aku bawa payung ini,” kataku sambil menunjuk payung yang kupegang. Kemudian aku mengutuki diriku sendiri setelah mengatakan itu. Entah setan apa yang merasukiku sampai aku berani mengungkapkannya. Rumahku dan Revan memang searah. Jaraknya dari sekolah pun lumayan dekat. Aku selalu memilih berjalan kaki, sedangkan Revan selalu naik angkutan umum.
            “Beneran? Ya udah, yuk!” Revan memasukkan kado dariku ke tasnya. Lalu ia merebut payungku dari genggamanku. Tangan kami bersentuhan, aliran lsitrik seakan menjalari seluruh tubuhku.
            Ia mulai berjalan. Aku mengikutinya. Untung hujan sudah tidak terlalu deras. Aku berjalan di sisi Revan yang membawa payung diikuti tatapan cemburu seluruh gadis di gerbang sekolah. Aku merasa menang!
            “Aku suka banget cokelat payung. Itu bikin inget jaman kecil. Aku langganan di Keyna. Kamu tau, kan, dia jualan makanan jaman dulu gitu?” tanya Revan.
            Apa? Jadi Revan tahu Keyna yang punya toko itu? Kenapa Keyna tidak bilang? Katanya aku tidak boleh memberi tahu siapapun kalau dia jualan makanan jaman kecil dulu! Jadi Keyna juga tahu kalau Revan suka cokelat payung? Bahkan dia langganan! Ah, sialan si Keyna! Awas aja besok di sekolah!
            “Mal? Kamu kedinginan, ya? Kok diem?” Revan menatapku lagi.
            Ah, biarkan saja. Lebih baik kulupakan sejenak perihal Keyna yang menyebalkan itu. Yang penting sekarang hanya aku dan Revan. Aaaaa... Aku berteriak dalam hati. Senyumku mengembang. Rasanya aku ingin diam sepanjang jalan supaya Revan terus menatapku. J