Laman

Sabtu, 31 Agustus 2013

Benarkah Cinta?

Hening
Aku termenung
Sedang mereka-reka
Menyusun potongan asa
Yang terselip di tiap tatapmu

Aku mencari
Menggali relung hati
Mengorek memori
Namun tiada kudapati jawabnya

Benarkah ini cinta?
Atau kagum semata
Jika aku menyukai parasmu, wajahmu, senyummu

Benarkah ini cinta?
Atau kagum semata
Jika jantung menderu tiap bertemu
Jika hati bergejolak tiap bertatap
Jika bulu meremang tiap bersentuh

Benarkah ini cinta?
Atau butuh semata
Jika ingini kau di sisi
Menemani

Benarkah ini cinta?
Atau iri semata
Jika merana, terluka melihatmu dengan lainnya

Jika benar cinta
Mengapa tak kulihat kilaunya?

Sampai kapan kutahan rasa,
hingga kau merasanya jua?

Minggu, 25 Agustus 2013

[Cerpen] Kampanye

Halo, kamu!

Sekarang aku mau ngepost cerpen yang aku bikin buat tugas Bahasa Indonesia waktu kelas 10 dulu. Tugasnya disuruh bikin cerpen berdasar pengalaman diri sendiri. Berhubung aku terlalu nggak kreatif kalo disuruh bikin tugas untuk nilai, jadilah aku bikin cerpen asal-asalan. Tapi begitu aku bawa ke sekolah, kampretnya, temen-temen pada ngakak baca cerpenku. Penasaran? Nggak, ya? Tetep harus baca, ya! *maksa* Oh iya, cerpenku ini banyak mengandung bahasa Jawa. Ya maklum, kan cerpen pengalaman diri sendiri. Kalo nggak ngerti ya dingerti-ngertiin aja, ya. *maksa lagi* Beri komentarmu! :)




Kampanye
Karya : Lajeng Padmaratri

Pagi ini begitu terik. Matahari tak segan-segan membakar kulit manusia. Bahkan anginpun enggan berhembus lebih kencang. Hanya sepoi-sepoi. Namun mayoritas  orang di lapangan ini tidak mempedulikannya.
Aku duduk di teras rumahku. Kudengar riuh para pejabat mengkampanyekan pasangan bupati-wakil bupati. Hari ini di lapangan desaku sedang diselenggarakan kampanye pasangan calon bupati-wakil bupati dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) dan Drs. H. Sutejo. Pasangan tersebut adalah calon bupati dan wakil bupati Kulon Progo periode 2011/2016.
“Ayo, Mbak, kita nonton ke sana!” ajak saudara sepupuku.
Emoh, Sa. Rame banget.”
Halah, Mbak, ayo to! Jarene ana artise lho.”
Ngejako adhimu wae kono.”
“Yo uwis.”
Aku masih enggan turun ke lapangan. Banyaknya orang yang ingin menonton kampanye membuatku malas berdesak-desakkan di sana. Apalagi dengan kedatangan saudara-saudaraku ke sini membuatku betah bermain di rumah dengan mereka. Meski ada saudaraku yang ngotot mengajakku ke lapangan, aku tetap enggan.
Hari semakin siang. Lapangan di depan rumahku masih penuh orang-orang. Kampanye rupanya belum usai, malah semakin ramai. Dari kakek-kakek yang rekannya adalah pejabat yang sedang berorasi, hingga anak kecil yang belum mengenal pejabat yang sedang berorasi, berdesakkan memadati lapangan.
Kampanye calon pejabat memang menguntungkan masyarakat. Menguntungkan bagi mereka yang menjajakan dagangannya di lokasi kampanye, karena pasti lokasi itu dipadati oleh warga yang biasanya akan membeli sesuatu untuk mengisi perut mereka sembari mendengarkan orasi. Juga menguntungkan bagi mereka yang diberi amplop agar menyoblos pasangan yang sedang ‘bersedekah’ tersebut, meski tidak semua yang diberi amplop akan benar-benar memilih pasangan tersebut.
Kampanye kali ini diikuti oleh Partai PAN, PDIP, dan PPP. Ketiga partai tersebut berkoalisi untuk membantu pasangan Hasto-Tejo agar memenangkan Pilkada Kulon Progo dan menjadi bupati dan wakil bupati Kulon Progo periode 2011/2016. Poster-poster, stiker-stiker, dan spanduk yang bertuliskan arahan untuk menyoblos pasangan ini menghiasi setiap sudut lokasi kampanye. Begitu juga bendera-bendera dari masing-masing partai yang berkoalisi melambai-lambai ditiup angin di sekeliling lapangan. Namun ada satu hal yang membuatku heran. Kulihat bendera suporter klub sepakbola Indonesia ikut berkibar di antara masyarakat yang menonton kampanye. Ini kampanye pejabat atau pertandingan sepakbola? Mentang-mentang lokasi kampanye ada di lapangan lalu mereka turut membawa bendera suporter klub sepakbola begitu?
Nenekku berkata padaku kalau rumahku akan menjadi tempat istirahat bagi pejabat yang berkampanye. Nenekku juga berkata bahwa ada artis yang berkampanye yang turut beristirahat di rumah nenekku. “Mengko aku difoto karo Eko Patrio yo!” tambah nenekku.
“Ayo coblos nomor empat!” kudengar suara pejabat berorasi.
“Kaki kursi ada berapa? Betul, empat! Kalo tiga bisa enggak? Enggak bisa. Bisanya empat. Jadi, coblos nomor empat!” teriak pejabat tadi diakhiri tepuk tangan yang meriah.
Lelah bermain bersama saudara membuat perut kami merintih minta diisi. Makan siang adalah pilihan yang tepat. Kami lahap apa saja yang ada di meja makan. Seusai makan siang aku bertugas mencuci piring kotor. Sembari mencuci piringpun aku masih bisa mendengar suara ajakan pejabat untuk mencoblos nomor urut empat.
Lalu tiba-tiba kudengar suara saudaraku memanggilku.
Mbak!!”
Ana apa to? Mreneo! Aku lagi ngasahi.”
“Kae ana Eko Patrio, Mbak!”
Ket mau Eko Patrio cen melu kampanye, Sa.”
“Eko Patrio mrene, mbak!”
Sontak aku berhenti mencuci piring. Tiba-tiba kudengar suara orang asing.
“Permisi. Ini Mas Eko Patrio mau numpang ke kamar mandi, ya,” kata seorang asisten Eko Patrio. Di belakangnya turut serta Eko Patrio. Aku pun speechless melihat Eko Patrio lewat di depan mata. Aku kelihatan agak norak ya..
Dengan keadaan tanganku yang masih basah dan cucian piring yang belum selesai, aku tidak bisa mengambil foto nenekku dengan Eko Patrio. Lalu aku berteriak menyuruh adikku agar mengambil foto nenekku dengan Eko Patrio. Selesai mencuci piring, aku segera mencari adikku.
Wis tokfoto simbah mau?”
“Wis difotokke karo ibu-ibu kui mau. Iki deloken hasile.”
Kulihat foto di ponsel adikku. Foto nenekku dan Eko Patrio. Tapi tunggu dulu.. Di foto tersebut, Eko Patrio diapit oleh dua orang. Orang di sebelah kiri adalah nenekku. Namun orang di sebelah kanan tidak tampak wajahnya, hanya tampak separuh bahunya.
Kuwi simbah kakung melu foto tapi ra katut, ming katut pundhak tok. Mbuh kuwi sing njepret ki ora dong,” kata adikku sambil mengumpat.
Rupanya, kakekku ikut berfoto dengan Eko Patrio bersama nenekku. Namun entah bagaimana, ibu-ibu yang mengambilkan gambar tadi tidak menyertakan kakekku dalam fotonya. Akhirnya kakekku hanya tampak bahu kirinya saja. Wajahnya tak tampak. Padahal, di foto, wajah nenekku berseri di samping Eko Patrio. Bila wajah kakekku turut serta dalam foto tersebut, aku yakin, wajah kakekku akan berseri juga. Kasihan kakekku..

****

Rahasia Sebaris Nama

Selamat malam!

Kemarin, aku baru ngecek Whatsapp nih. Di grup Whatsapp HPC (Harry Potter Community) lagi seru membahas tentang nama. Ya ada yang nggak puas sama namanya yang kependekkanlah, ada yang nggak puas karena nggak jelas artinyalah, ada yang nggak puas karena kepanjanganlah -jadi kan capek kalo pas ngisi kertas ujian- dan lain-lain.

Tapi menurutku, apapun nama kita, sependek apapun, sepanjang apapun nama kita harus kita syukuri, karena nama adalah pemberian orang tua kita yang berisi doa dan harapan yang -sebaiknya dan seharusnya- kita kabulkan. Misalnya nama kamu Wicaksono gitu, ya. Dalam bahasa Jawa artinya Wicaksono itu bijaksana. Tapi ternyata sifat kamu nggak bijaksana -misal-. Nah, kamu nggak boleh dong menyalahkan orang tua kamu karena ngasih nama yang berbeda sama sifat kamu. Kamu harusnya malah berusaha bersifat bijaksana, sesuai nama kamu. Karena itulah yang diharapkan orang tuamu!

Kalo aku sendiri, aku bangga menyandang nama yang keren bin ajib ini. Lajeng Padmaratri. Yah, walaupun di namaku itu nggak mengandung doa dan pengharapan orang tua, tapi keren aja gitu namaku. Ceileehh..

Lajeng atau dalam bahasa Jawa ajeng/badhe/arep berarti mau/akan/terus. Jadi tiap pelajaran bahasa Jawa di sekolah aku harus konsentrasi lebih untuk membedakan guruku lagi nyebut namaku atau nyebut kata dalam bahasa Jawa. Padma artinya bunga. Kalo di buku kumpulan nama sih bunga teratai. Tapi maksud orang tuaku bukan gitu. Padma diambil dari akronim empat-lima. Maksudnya, aku lahirnya waktu antara jam empat-lima. Ratri artinya malam dalam bahasa Jawa. Jadi kira-kira kalo digabungin, Lajeng Padmaratri berarti aku lahirnya di waktu menuju jam empat-lima malam (subuh).

Keren kaaaann?? Ya dong..

Namaku juga bisa di-alay-in loh. Lajeng Padmaratri jadi Lajeng 45ra3. Got it? Kyaaaa.. Aku malah geli sendiri. Aku nemuin kealayan dalam nama aku waktu SD, bahkan sebelum alay itu sendiri muncul. Jadi, aku pencetus alay gitu? -_-

So, Hi! Siapa namamu? :)

Minggu, 18 Agustus 2013

Seperkamen Penuh Kegalauan

Aku tidak butuh Remembrall untuk mengingat semua tentangmu
Aku juga tidak butuh Amortentia untuk mencintaimu
Namun,
Haruskah aku memberimu Amortentia agar kau mencintaiku?
Haruskah aku menggunakan Mantra-Panggil agar kau ada di sisiku?
Haruskah aku meramu Polijus dan menenggaknya agar kau mau melihatku di tubuh gadis lain?
Haruskah aku mengikuti kelas Trelawney agar aku tahu masa depan kita?
Haruskah aku memakai Mantra Cruciatus agar merasakan sakitnya aku melihatmu dengan yang lain?
Haruskah aku menggunakan Imperius agar kau patuh dan menuruti keinginanku?
Haruskah?
Mungkin aku akan digiring ke Azkaban
Dan menerima kecupan Dementor yang memabukkan

Sabtu, 03 Agustus 2013

Keheningan

Aku ingat kala keheningan hadir di antara kita
Saat kau ragu menggurat kisah
Dan aku menunggu resah

Aku ingat kala keheningan hadir di antara kita
Saat kau membisu
Menunggu jawabku

Aku ingat kala keheningan hadir di antara kita
Saat tatapanmu membiusku
Membuatku rapuh

Aku ingat kala keheningan hadir di antara kita
Saat jemari kita bertaut
Sepanjang tepi laut

Aku ingat kala keheningan hadir di antara kita
Saat kaki kita mulai menapaki
Setapak basa-basi

Aku ingat kala keheningan hadir di antara kita
Saat kau kehabisan kata
Dan aku tak pandai memulai cerita

Aku ingat kala keheningan hadir di antara kita
Saat senyummu tak lagi terukir
Saat semua berakhir

Aku benci mengingat keheningan yang hadir di antara kita
Nyata-maya
Otak menayangkan memori berkala
Hati tak sanggup menerima

Aku benci mengingat keheningan yang hadir di antara kita
Menghadirkan tanya
Kapan aku lupa?

Jumat, 02 Agustus 2013

Jarak

Sesungguhnya aku sedang menerjemahkan ketakutanku sendiri
Sesungguhnya aku sedang kabur dari prahara yang kutimbulkan

Tidakkah kau dapat merangkainya?
Dia.. Akhir.. 17..
Semua menunjuk pada satu hal: salahku

Salahku memang..
Namun apakah harus kusesali?
Tidak
Lalu mengapa hal itu menghantui?

Tidakkah kau dapat mencernanya?
Apa yang keluar dari mulutku itu nyata
Aku tak mampu lagi menerima semua tentangnya
Apa yang dirasa hatiku itu perih
Perih yang kubuat sendiri
Kini terus membayangi

Tidakkah kau dapat mengerti?
Semua maaf dariku
Pasti tak ia tanggapi

Aku tak mengharap tanggap
Yang kuminta adalah jarak
Pergi dariku
Aku takkan mendatanginya
Jangan muncul di depan hidungku
Aku tak sanggup

Karena sesungguhnya yang kuminta adalah jarak
Karena sesungguhnya aku sedang berlari menjauh