Laman

Rabu, 26 November 2014

Teguh

Pagi belum juga nyata
Mentari berada di peraduannya
Bahkan rembulan malu-malu
Mengintip dari balik awan

Dirimu belum juga beranjak
Tetap bertahan dalam pendirian
Meski teracuhkan
dan hilang ditelan diam

Letihmu belum juga nampak
Betapa peluhmu membasahi raga
Namun setiamu masih juga di sana
Menanti seuntai kata

Apa pula yang kau tunggu?
Jawabnya masih juga serupa
Seperti tiga kali musim gugur yang lalu

Apa pula yang kau harapkan?
Tak bosankah pada penantian?
Hingga jatuh jua
pada lubang yang sama

Untuk apa menanti benang terurai
Lebih baik mengurai kata
Untuk kau ucapkan padaku

Minggu, 23 November 2014

Karut

siapa yang datang?
di antara puluhan derap kaki
siapa yang kembali?
menaruh sekali lagi harapan yang lama pergi

waktu terus berlalu
namun memori itu melekat di sana
detik terus berdentang
namun sapa itu masih sama

mungkin memang aku yang kembali
tanpa mau kuakui dengan pasti

senyum itu masih sama
harapan bersua masih ada
namun debar itu telah sirna
terbiasa kosong untuk waktu yang lama

(di antara memori dan bulir bening. 22-11-2014)