Laman

Rabu, 24 Juni 2015

Surat Untuk Cinta Pertama

Teruntuk cinta pertamaku.

Hai, kamu. Bagaimana kabarmu? Ah, aku basa-basi sekali. Jelas-jelas aku tahu bagaimana keadaanmu sekarang.

Sebelumnya, aku ingin meminta maaf. Aku telah berbohong. Sejujurnya, kamu bukan orang pertama yang kutaksir. Sebelum kamu, ada beberapa orang yang kurang beruntung aku curi-curi pandangnya tiap waktu, namun itu semua hanya sebatas kagum saja. Aku tidak ingat alasan lain. Eh, tapi cinta memang tidak butuh alasan, ya? Lain hal denganmu, masih terekam jelas dalam benakku ketika benih suka itu pertama kali tumbuh, sehingga aku berani melabelimu sebagai cinta pertamaku. Harap diterima, ya. Oh, sebenarnya aku tidak ingin kau membaca ini..

Jadi, yah.. aku di sini. Mengenangmu kembali.

Selasa, 02 Juni 2015

Prom Night [Cerpen]

Tahun ajaran telah selesai. Masa putih abu-abu sudah saatnya menjadi masa lalu. Kini saatnya mereka mempersiapkan diri guna bertindak nyata untuk masyarakat. Namun, perpisahan harus dirayakan, dong? Supaya mereka sempat mengucap secuil kata-kata kepada orang tercinta.
“Menurut kamu, warna hitam atau putih yang cocok dipakai minggu depan?”
“Yuk, nge-mall, yuk.. Aku mau beli long-dress.”
“Kira-kira doi mau nggak ya gue ajak bareng ke pesta?”
“Kira-kira si itu bakal ngajak aku nggak, ya?”
Percakapan itu ribuan kali mendengung di telinga Raka. Teman-temannya sungguh rempong. Ia tak habis pikir mengapa momen prom night ini menjadi begitu sulit.
“Gimana, Ka? Bakal ngajak Tata kan lo?” seru Arif mengambil alih perhatiannya.
Ah, Tata.. Pikiran Raka membayangkan gadis manis berlesung pipit, dengan tinggi semampai dan bodi aduhai yang sudah lama ditaksirnya itu...