Laman

Minggu, 12 Oktober 2014

Biar Mata Buta, Jangan Sampai Hati Mati

Sore itu, seusai pulang dari kantor tempatku bekerja, aku menyempatkan diri mampir ke taman kota. Sejujurnya, tempat ini kurang layak untuk disebut taman. Selain tanaman yang amat jarang tumbuh, hanya ada beberapa kursi permanen yang tersebar taman ini, yang bahkan catnya sudah mengelupas di sana-sini. Menurutku, hanya satu hal yang membuat taman ini cukup pantas disebut taman, yaitu keberadaan air mancur yang berdiri di jantung taman. Yah, meskipun airnya sering macet.

Kuhela napas panjang berulang kali. Kedatangan adikku tadi siang di kantor mengejutkanku. Bukan hanya karena parasnya yang bertambah cantik, namun juga kabar berita yang dibawanya. Baru kusadari sudah lama sekali aku tidak bersua dengannya.

“Bagaimana kabar Mas? Sudah dewasa, sudah mapan, apakah juga sudah mendapat pendamping?” suara lirih adikku menanyaiku tadi siang.

“Mas baik, Mir. Bagaimana denganmu? Mas masih betah sendiri, Mir,” jawabku seadanya.

“Mira senang Mas baik-baik saja. Mira juga baik. Bapak dan ibu di rumah juga baik,” ujarnya dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.

Hening. Aku terdiam. Ingatanku melayang sejenak ke rumah mungil di desa yang sudah bertahun-tahun kutinggalkan dan tak pernah kutengok lagi. Rumah yang mengisi masa kecilku, dengan sepasang sosok tua yang selalu mengulurkan tangan mereka ketika aku terjatuh. Namun semua berubah saat ego masa mudaku lebih menguasai hatiku. Bapak tidak setuju dengan pilihanku sehingga aku memutuskan untuk pergi.