Laman

Rabu, 27 November 2013

Cerbung : Karena Terbiasa (Part V)

Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini.

Karena Terbiasa (Part V)
(Dyar Ayu Budi Kusuma)


Mia memandang dirinya sendiri di depan kaca. Setengah tidak percaya kalau yang ada dihadapannya itu adalah dirinya sendiri. Sudah 2 hari semenjak rambutnya yang semula panjang tidak beraturan kini menjadi sedikit lebih pendek dengan poni. Mia tidak percaya bahwa dia bisa cantik. Semua berkat Divya yang 2 hari lalu menggeretnya ke sebuah salon.
Puas memandang dirinya sendiri, Mia duduk menghadap balkon yang pintunya dibuka sedikit, memberi ruang pada angin malam untuk masuk dan membelai Mia pelan. Diraihnya buku diary kesayangannya dan mulai menulis disana.
Dear Kamu,
Entah dari mana aku memulai ini.
Aku seperti magnet yang tertarik pesonanya.
Mungkin karena aku belum pernah diperlakukan se-spesial itu.
Dear Kamu, tau kan bahwa aku
selalu menutup diri dari yang namanya ‘cinta’? aku hanya takut dilukai.
Aku sedang belajar bagaimana cara mencintai dengan caraku sendiri, tanpa melukai.
Mungkin aku terlambat menyadari bahwa rasa itu memang ada dan nyata.
Tertanda          :           Mia.
                                                            ***
Arga duduk sendirian di ruang klub film siang itu. Seseorang yang diharapkannya datang malah tak kunjung menampakan dirinya. Arga tidak bisa fokus sejak pertama bertemu Mia di ruang klub itu. Semua sama seperti sejak SMA itu, mati-matian Arga mendekati Kinantan, merelakan persahabatannya dengan Gandhi hancur. Semua hanya karena Kinantan.
Tidak mudah membuat dirinya sendiri bangkit dari masa lalu, menyadari bahwa Kinantan sudah pergi untuk selamanya. Ibunya sampai ketakutan kalau-kalau Arga menjadi seorang homo. Hingga Arga menjadi playboy, berganti-ganti teman wanita, niatnya untuk mencari seseorang yang seperti Kinantan, but it's NOL. Semua terasa sulit bagi Arga. Mencoba bergaul dengan wanita bermacam-macam karakter, tidak ditemui yang bisa membuatnya jatuh cinta hanya dengan melihat senyumnya. Dan kini, Mia datang.
Tiba-tiba sosok Gandhi datang dan duduk disebelah Arga. Lama mereka saling diam, seolah mereka tidak ingin memulai obrolan.
“Mia itu seperti Kinantan,” kata Arga buka mulut. Gandhi memandangi Arga dengan perasaan sedikit teriris.
“Kinantan itu sudah meninggal, Ga. Jangan pernah samakan Kinantan dengan wanita lain. Yah, si anak baru itu hanya memiliki kesamaan fisik dengan Kinantan.”
“Kamu tidak mengenalinya. Kamu sendiri sudah memiliki pengganti Kinantan, sudah sejak 2 tahun lalu ketika aku melihat Gantari, aku tau dia akan menjadi wanitamu yang terakhir.”
“Yah, Gantari. Aku tidak perlu mencari wanita yang mirip dengan Kinantan sepertimu. Semua wanita kau dekati hanya untuk mencari seseorang yang sama dengan Kinantan, mustahil untuk bisa menemukan yang sama..”
“Nyatanya aku menemukan Mia,”
“Cukuplah,” Gandhi beranjak lalu pergi meninggalkan Arga yang masih duduk diam menimbang-nimbang ucapan Gandhi.
                                                            ***
Mia mengendarai si Bettist pelan ke  arah sebuah taman penuh ilalang di dekat sungai kecil buatan manusia. Itulah tempat favoritnya. Sendirian, bebas tanpa perlu memikirkan apapun.
Baru kali ini Mia melihat ada motor lain parkir di bawah pohon mangga dekat taman. Taman itu terpencil di belakang kompleks perumahan, jadi sangat jarang orang kesana. Tapi Mia seperti mengenali motor itu.
“Kak Gandhi? Kak Gandhi ngapain di sini?” Mia setengah terkejut melihat seniornya yang rupawan itu duduk bersila di bawah pohon sambil membaca buku.
“Memang yang kamu lihat aku sedang apa? Olahraga catur?” canda Gandhi.
“Mungkin saja dibalik buku itu ada papan caturnya?” kata Mia polos. Gandhi tertawa mendengar celotehan Mia. Lalu member isyarat pada Mia untuk duduk di sampingnya.
“Padang ilalang ini indah sekali. Jauh dari kesan bahwa kita ada di sebuah kota besar yang pusing. Kamu tau? Dulu, aku sering sekali kemari dengan Arga. Kami tiduran sampai menjelang malam. Kami saling berbagi bekal,”
“Tapi kalian seperti saling menjauh, ada apa?” tanya Mia penasaran. Wajahnya penuh tanda tanya membuat Mia makin lucu.
“Itu bukan masalahmu,” Gandhi menjitak kepala Mia pelan. Mia hanya meringis kecewa tidak mendapatkan lebih banyak informasi dari kakak seniornya yang ganteng itu.
Mia melukis di udara mengikuti bentuk awan. Tapi, dia menambah titik-titik seperti hujan di bawah gambaran maya. Gandhi mengikuti Mia menggambar di udara tapi menggambar matahari bersinar. Mereka sibuk dengan gambaran mereka sendiri di udara, seolah di depan mereka ada sebuah buku gambar raksasa terbentang di depan mereka. Tiba-tiba terdengar dari kejauhan suara musik iklan es krim. Gandhi beranjak, setengah berlari keluar dari taman itu lalu kembali lagi dengan dua es krim cone ditangan.
“Buat kamu,” kata Gandhi sambil menyerahkan satu dari dua es krim di tangannya untuk Mia. Mia menerimanya dengan malu-malu.
“Kak Gandhi pintar main gitar, suaranya bagus..” kata Mia sambil melahap es krimnya.
“Jangan kebanyakan memuji, makan saja es krimmu itu,” sahut Gandhi sambil menggigit es krimnya banyak-banyak. Mia langsung tutup mulut. Mereka diam menikmati es krim masing-masing dengan pikiran berkecamuk di otak. Tak sampai lima menit, es krim ditangan Gandhi habis.
“Meski hari ini belum kau cintaiku. Tapi esok hari siapa yang bisa tau. Mungkin cinta kan ada. Karena terbiasa..” Gandhi bernyanyi kecil, menyita perhatian Mia. Mia bisa mendengar suara malaikat mengalun pelan dari bibir Gandhi. Menikmati lambaian tangan Gandhi mengukir gambar lagi di udara, kini gambar hati terpahat disana.
Malu-malu matahari menghilang dan langit gelap berhias bintang. Mia ingin pulang, tapi ada di dekat Gandhi yang terasa misterius membuatnya enggan, suara Gandhi seperti candu untuk Mia.
“Pulanglah, anak perempuan sepertimu tidak baik pulang larut.” Gandhi membuka jaketnya dan dipakaikan ke Mia. Detak jantung Mia bekerja ekstra saat tangan Gandhi mengalungkan jaket di badannya yang kecil.
“Lalu, kakak..?”
“Hey, aku tidak membutuhkan jaket itu. Badanmu itu pasti kedinginan pulang jam-jam seperti ini. Hati-hati,” Gandhi mengelus rambut Mia pelan, lalu buru-buru mengalihkan pandangan dari dua mata Mia.
“Aku pulang, Kak..” Mia memandang Gandhi sekilas lalu memakai jaket Gandhi dengan benar. Dan pulang.
                                                            ***
Mia langsung masuk kamar begitu sampai dirumah, memandangi jaket kulit Gandhi yang super hangat, yang menjaganya dari hembusan angin malam.
“Mi? Kamu kenapa?” tiba-tiba Mami masuk tergopoh-gopoh, khawatir melihat anak gadisnya begitu pulang langsung masuk kamar. Wajahnya dibalut lulur entah terbuat dari apa hingga muka Mami menjadi hijau.
“Aaaaa.. Mami kaya kodok!” teriak Mia menjauh dari Mami. Mata Mia melotot ketakutan.
“Mia! Ini Mami, hello! Mami lagi luluran ini,” teriak Maminya tak kalah keras.
“Enggak mungkin! Lulur Mami kan warnanya putih! Kamu alien yang menyamar jadi Mami tapi gagal di muka kan! Hayo, ngakuuuu!!” Mia melempar bantal-bantalnya ke arah Mami.
“Mia!! Jangan brutal! Ini lulur Mami dari serat rumput laut, dan MAHAL!”
Mia berhenti melempar bantal-bantalnya ke arah Mami dan memandangi Maminya dengan detail, mana mungkin seorang alien memikirkan mahalnya lulur serat rumput laut?
“Itu bener Mami?” tanya Mia masih waspadanya, sekarang Mia berdiri dengan kaki kuda-kuda. Tangannya terkepal siap merontokkan gigi “alien Mami”.
“Kalau Mia masih mau mukul Mami, Mami akan potong 50.000 uang saku Mia setiap minggu!” Mia langsung duduk manis di tempat tidurnya.
“Jaket siapa itu?” Mami mengambil jaket Gandhi dari tangan Mia, mengendus-endus jaket itu pelan.
“Itu jaket senior Mia, Mi. Sini balikin,”
“Senior? Arga ya, Mia?”
“Bukan, ini temennya Arga.”
“Oh, harum parfum dia enak. Terus yang kamu pilih yang mana, Mia? Jangan nge-PHP Arga dong, nggak baik ah.”
“Mami! Apaan sih, mereka cuma sebatas senior buat Mia,”
“Tapi, dari mata Arga Mami bisa liat tatapan yang berbeda, lho.”
“Ah bodo amat,”
Mia masuk ke kamar mandi yang jadi satu dengan kamarnya dengan maksud menjauhi Mami. Dia memandang dirinya di kaca, Arga.. bisik Mia pelan.
 ***



Tunggu kelanjutannya, ya! Jangan lupa tinggalkan komentar. Terima kasih!

Senin, 25 November 2013

Cerbung : Karena Terbiasa (Part IV)

Untuk baca cerita sebelumnya bisa ke sini.



Karena Terbiasa (IV)




Matahari tak hadir pagi ini, tapi kedatangan hujan lebat tetap menjadi teman bagi Gandhi yang asyik memainkan gitarnya di teras sebuah rumah besar. Pagi itu masih sekitar jam 06.00 pagi, Gandhi tidak berteman dengan kemalasan layaknya remaja lain. Sepupu tercintanya akan datang untuk berlibur.
Sebuah mobil Honda Brio berwarna hijau muda, khas kesukaan gadis cantik yang ditunggu Gandhi datang, lalu dengan lembut parkir di sebelah motor ninja hitam milik Gandhi. Senyum Gandhi melebar ketika sepupu kesayangannya keluar dari mobil dengan payung besar warna hijau.
“Kak Gandhi!” gadis itu berteriak girang sambil berjalan cepat ke arah Gandhi, lalu mereka berpelukan melepas rindu.
“Heh, gendut. Betah di Jogja?” sapa Gandhi sambil menggandeng sepupunya itu masuk ke dalam rumahnya yang besar tapi kosong.
“Yah, Jogja selalu hangat, Kak. Disana banyak makanan enak. Kapan-kapan Kakak harus ikut Divya ke Jogja ya?” Ya, Divya adalah sepupu kesayangan Gandhi.
“Gampang. Tapi, Divya harus janji kalau selama kakak disana, makan gratis,” canda Gandhi sambil mengacak-acak rambut Divya pelan.
“No problem, Brother. Gimana kabar Kak Gantari? Masih jadi model di Jepang, atau sudah pindah ke mana lagi?”
“Dia sedang fokus ke pernikahan aku dan dia, Div. Kamu tau sendiri, Gantari orangnya perfeksionis.”
“Ya, ya. Aku kangen kita jalan-jalan ke Paris lagi, deh. Oh ya, titip tas ya kak, Divya mau ke toilet. Pagi-pagi dingin.”
Divya melepas sepatu hak tingginya dan segera berlari ke kamar mandi. Gandhi membuat 2 gelas teh tawar untuk menemaninya dan Divya bercerita panjang lebar lagi. Saat menaruh nampan di meja, tak sengaja dia menyenggol tas  Divya hingga isi tasnya berserakan. Dompetnya terbuka, dan Gandhi bisa melihat disitu ada foto Divya bersama seorang gadis yang dikenalnya, Mia.
“Kak?” tiba-tiba Divya datang dan melihat Gandhi diam melihat foto di dompetnya.
“Kamu kenal sama Mia, Div?” tanya Gandhi segera.
“Ya iyalah, dia ini sahabat terbaik aku, Kak. Kenapa? Jangan biang kalau kakak tertarik sama Mia!” Divya melotot menatap Gandhi dengan tidak percaya. Gandhi malah tertawa terbahak-bahak.
“No! Kamu tau sendiri kan kalau hati kakakmu ini sudah habis diambil Gantari? Dia hanya mengingatkan pada seorang gadis masa lalu yang sempat memberi warna. Yang membuat aku dan Arga menjadi renggang.”
“Cerita dong kak,” rajuk Divya.
“Ok. Dulu, masa SMA, aku dan Arga sama-sama menyukai seorang gadis yang mukanya mirip sekali sama sahabatmu ini. Namanya Kinantan. Kulitnya, lesung di pipinya, dan caranya tertawa. Kinantan membuat aku dan Arga yang semula sahabat layaknya kepompong, lalu sedikit saling menjauh. Kita seperti dua orang yang tidak saling kenal. Tapi malangnya, sebelum diantara aku ataupun Arga mendapatkan Kinantan, Kinantan kecelakaan saat kemah akhir tahun. Lalu, dia meninggal. Buruknya Arga, dia tidak bisa melupakan Kinantan. Sementara aku bertemu dengan Gantari.”
“Jadi.. Mia itu pelampiasan buat Arga karena muka Mia yang mirip dengan Kinantan itu?”
“Enggak, tentu saja enggak. Arga sulit jatuh cinta, Divya sayang. Jika sekarang dia mencoba mendekati Mia itu tentu wajar. Dia pasti menemukan sesuatu yang baru di dalam diri Mia yang beda dari Kinantan. Kinantan orangnya lembut, pintar masak, dia wanita paling menarik yang pernah aku kenal. Aku akan sangat bahagia, jika Arga bisa mendapatkan Mia. Mia sangat menarik, tapi aku rasa sedikit ceroboh.”
“Ya memang. Mia ceroboh dan makannya banyak sekali. Tapi, Kak Gandhi nggak mencoba buat mengambil Mia, kan? Yah, siapa tau karena Mia mirip Kinantan?”
“Gantari cukup buatku sampai mati, Divya.”
“Bagus, deh. Aku kemaren juga jalan bareng Mia, dan ketemu Arga. Dan yah, dari cara Arga menatap Mia itu, matanya berbinar-binar. Sementara Mia, Mia orangnya cuek banget masalah cowo, Kak. Dia belum pernah pacaran. Dia terlalu bahagia dengan hidupnya yang warna-warni.”
“Nah itu, Arga pasti melihat kepolosan Mia yang seperti magnet. Bantu Mia dekat dengan Arga, ya, Div. Mau, kan?”
“Pasti, Kak. Jika itu membuat Mia makin dewasa dan makin bahagia, apa sih alasan untuk aku tolak?”
Kedua saudara sepupu itu saling menyunggingkan senyum tulus. Mereka mulai mengatur strategi mendekatkan kedua orang yang sulit jatuh cinta itu. Arga dan Mia.
Seolah memihak kepada Gandhi dan Divya, hujan yang semula turun deras kini perlahan hilang dan matahari mulai menggantikan perlahan. Semua terjadi begitu pelan hingga akhirnya Gandhi dan Divya memutuskan untuk membiarkan matahari tetap terang di hati Mia dan Arga.
                                                            ***
Hujan mengguyur Karawang dengan deras. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkah Arga mendatangi sebuah pemakaman mahal di Indonesia. Dengan sebuah payung hitam dan membawa sekeranjang penuh bunga, Arga berjalan ke sebuah petak pemakaman dan bersimpuh di hadapannya. Pemakaman itu bertulisan sebuah nama “Icasia Kinantan”. Senyum tersungging diwajah tampan Arga saat menabur bunga di nisan itu. Arga tidak berhenti berdoa untuk gadis manis yang telah tidur tenang di dalam sana.
“Hallo, Kinantan. Dewi bertubuh putih yang aku sayangi. Kini, aku menemukan seorang gadis yang tepat, sepertimu. Aku tidak akan membiarkan dia lari. Kinantan, ingatkah kamu pernah berkata, bahwa aku akan mendapatkan gadis manis pintar masak? Yah, Mia jawabannya. Dia menyenangkan, lesung di pipinya sepertimu, Kinantan. Kamu harus melihatnya suatu saat nanti. Aku menyukainya bukan karena wajahnya yang sepertimu, aku menyukai kepolosan gadis itu. Dia manis, menyenangkan. Kinantan, aku masih tetap menyimpan kalung kerang itu.. dan jika kau mengizinkannya, kalung itu akan aku berikan untuk Mia. Aku benar-benar menyukainya. Sama seperti saat aku menyukaimu dulu.”
                                                            ***



Gimana? Bagus, kan? Tunggu lanjutannya, ya. Jangan lupa tinggalkan jejak di bawah.