Laman

Rabu, 22 April 2015

Cepat Sembuh, Bumi!

Hari ini, 22 April 2015, adalah hari peringatan untuk Bumi kita tercinta dan diperingati secara internasional. Peringatan ini sudah dicanangkan sejak tahun 1970 lho! Lama kan? Lalu, apa yang sudah kamu lakukan untuk menjaga bumi?

Selasa, 21 April 2015

Surat-Menyurat Tak Melulu di Zaman Kartini

Hari Sabtu lalu, aku baru saja mengirim secarik kartu pos untuk tujuan Bekasi. Kebetulan kawanku sedang berlibur ke sana dan meminta aku untuk mengiriminya kartu pos. Kemudian dia akan memberikan balasannya untukku dari sana, padahal dia orang Jogja juga seperti aku.


Jadi beberapa waktu lalu, kami sama-sama sedang berkhayal tentang masa depan. Kami sama-sama ingin ke luar negeri. Dia bersama suaminya kelak ke Paris, sedang aku ke London. *Amin!* Lalu, aku iseng memintanya untuk mengirimiku kartu pos ketika dia berhasil ke Paris. Aku selalu berharap suatu kali bisa mendapati secarik kartu pos terselip di bawah daun pintuku. Rasanya pasti.... *speechless* Sepertinya ini gara-gara aku iri dengan Lintang di film Laskar Pelangi yang mendapat kiriman kartu pos bergambar Paris dari kawannya, Ikal.

Sabtu, 18 April 2015

Liburan Irit Ala Sepasang Absurd

Jauh-jauh sebelum negara api menyerang UN digelar, aku dan sahabatku, Dyar, memiliki rencana fantastis! Ada dua, tadinya. Sayang karena suatu hal, yang satu nggak jadi dilakuin.

Jadi, awalnya kami ingin main-main ke Kota Jogja untuk refreshing setelah UN selesai. Buset, UN belum mulai aja kami udah kebanyakan rencana, ya.. Hihi. Lalu Dyar mengusulkan, agar kami berdua hanya boleh mengeluarkan budget maksimal seratus ribu rupiah. Hm.. Lalu aku ikutan usul, agar uang seratus ribu rupiah itu jangan minta ke orang tua, melainkan harus dari jerih payah sendiri, yaitu dengan cara: mengirim tulisan ke media! Jadi, nanti uang seratus ribu rupiah itu digunakan untuk biaya pulang-pergi, makan, dan beli-beli. Dan hasil beli-belinya, harus ditukar satu sama lain. Seru kan?? 

Kamis, 02 April 2015

Persimpangan

Aku merasa melewati sebuah persimpangan, yang mana aku tahu benar bahwa aku telah memilih arah yang salah, namun aku tetap melakukannya.

Aku terjebak pada situasi yang tak dapat kudefinisikan sendiri. Aku tahu itu tidak benar, namun aku terjebak di dalamnya.

Aku tak dapat kembali, karena aku turut menikmati.

Aku tak dapat meneruskan, karena aku tak ingin menambah kesalahan.