Laman

Rabu, 19 Maret 2014

Aku Ingin Terus Berlari

Menuju rumah di ujung jalan sana
Jauh sekali rupanya
Namun aku mudah lelah
Dan sering menengok ke belakang

Aku ingin terus berlari
Meski avatar twitter-mu membayangiku
Melambai-lambai di depan wajahku
Meminta diperhatikan

Aku ingin terus berlari
Meski terngiang kata-kata
Ajakanmu tuk menyatukan beda
Panggilanmu kala menyebut nama
Dan rayumu yang tak kuasa kuelak

Aku ingin terus berlari
Meski rasa bersalah terus menghinggapi
Mengejarku tanpa lelah
Hingga ke masa kini

Aku ingin terus berlari
Karena rumah yang kulalui
Tidak mempersilakanku masuk
Apalagi memberiku segelas minuman

Aku akan terus berlari
Meski tujuanku belum nampak
Aku takkan menyerah
Karena aku lelah jika harus kembali

Kamis, 13 Maret 2014

Karakter Favorit Di Novel Yang Aku Suka

Aku suka banget sama kisah Harry Potter.
Tapi, dari sekian banyak tokoh di kisah berseri Harry Potter, yang paling aku favoritkan yaitu si penyihir cantik dari asrama Ravenclaw, Luna Lovegood. Luna Lovegood ini dikenal sebagai penyihir aneh dan sedikit sinting.
Jika Luna Lovegood benar-benar ada di dunia ini, aku akan cari dia dan akan kujadikan sahabat, soalnya Luna sangat setia sama sahabatnya dan baik hati. Apalagi dia selalu berpikiran positif, jadi dia pasti bisa mendengar segala cerita dan curahan hatiku dan memberi masukan yang baik. Luna juga memiliki sifat pantang menyerah, semoga dia bisa menularkan sifatnya itu padaku, soalnya aku gampang malas terhadap suatu hal kalau aku sudah pernah gagal. Luna juga berotak encer, buktinya dia masuk asrama Ravenclaw, jadi aku bisa minta diajarin pelajaran fisika biar aku nggak remidi lagi *ups*. Dan yang terpenting, Luna pinter ngurus hewan, aku mau minta dia untuk ngejagain kucing kakak di rumah.


Diikutkan dalam #GABeautifulSorrow yang diselenggarakan oleh Pia Devina di http://devinacandybox.blogspot.com/2014/03/giveaway-beautiful-sorrow.html

Selasa, 11 Maret 2014

Hasil Iseng Ikut Giveaway di Goodreads

Hai, semua!

Aku lagi senang, nih! Pengen tau kenapa?

Yak, benar! Karena aku baru saja dapet kiriman novel dari Kanada.

Lho, kok bisa?

Akhir tahun lalu, aku bergabung ke situs pembaca www.goodreads.com. Nah, di sana aku bikin akun. Kalo mau add sebagai teman bisa ke sini. Selain membuat review novel dan nyari rekomendasi bacaan dari temen, aku iseng ikutan giveaway di sana. Aku nyobain banyaaaaaaaaakkk banget giveaway. Habisnya gampang sih caranya, cuma tinggal klik-klik ini-itu. :D

Kemudian, tanggal 25 Desember ada e-mail masuk dari Goodreads.

Uwoooooo!

Abis itu aku menunggu dan menunggu akan tiba hari di mana ada paket datang..

Satu bulan, belum dateng..

Dua bulan, belum dateng juga.. Akhirnya aku pasrah aja. Mungkin paketnya nyemplung ke Samudera Pasifik atau kalo nggak mungkin aja aku salah masukin alamat.

Daaann jrenggg jrengggg...
Kemarin sore, ada Pak Pos dateng ke rumah bilang aku dapet paket dari Amerika. Aku langsung jerit-jerit xD





Ini bukunya!

Aku dapet novel The Second Lives of Honest Men karya John R. Cameron. Iya, berbahasa Inggris *duh*. Plus tanda-tangan!


Uhuyy! Tinggal baca terus bikin review, deh.
Terima kasih, John R. Cameron! Terima kasih Goodreads!

Sekarang, aku mau mencoba membaca novelnya dulu. Mungkin butuh konsentrasi lebih, dengan kemampuan berbahasa Inggris aku yang masih pas-pasan ._.

Tunggu review-nya, ya! ^^

Sabtu, 08 Maret 2014

Review Novel Unforgettable


Judul       : Unforgettable: Tentang Cinta yang Menunggu
Penulis    : Winna Efendi
Penerbit  : GagasMedia
Genre      : Percintaan
Tahun      : 2012
Tebal       : viii + 176 hlm
ISBN      : 979-780-541-7


Secara tidak sengaja saya menemukan Unforgettable di barisan novel di perpustakaan sekolah. Novel Unforgettable adalah novel karya Winna yang kedua yang saya baca. Sebelumnya, saya pernah membaca Melbourne, dan WOW! keren banget! Saya pernah bikin reviewnya di sini.

Novel ini berkisah tentang seorang perempuan yang gemar duduk di tepi jendela Muse -sebuah kedai wine milik abangnya- dan seorang lelaki yang selalu datang lima menit sebelum pukul sembilan malam. Takdir mempertemukan mereka di kedai wine tersebut. Sebelumnya, mereka hanya pribadi yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Perempuan itu yang selalu duduk sendiri di tepi jendela, menghadap laptop dan mengetik sesuatu di atas keyboardnya. Lelaki itu yang juga selalu datang sendiri, menenggak segelas wine hingga tandas setelah berdiam diri hingga pukul sebelas malam. Namun suatu kali, si lelaki mendatangi si perempuan. Dan mereka mulai mengobrol, mengenal satu sama lain dengan cara yang berbeda. Mengenal tanpa mengetahui nama masing-masing. Mengenal satu sama lain secara lebih dalam daripada orang lain di sekitar mereka. Namun, setiap ada pertemuan tentu ada perpisahan. Dan mereka berpisah setelah hati masing-masing terjerat.

Gaya berceritanya menggunakan sudut pandang orang ketiga sebagai pengamat. Cara penulis dalam merangkai setiap kata sangat rapi dan indah. Cara bertuturnya lembut dan manis. Membaca novel ini seperti membaca dongeng.

Pemilihan diksinya benar-benar menarik. Saya menemukan beberapa kosa kata baru yang belum pernah saya temui, seperti kata menghidu. Setelah saya cek di Kamus Besar Bahasa Indonesia, rupanya arti dari kata menghidu adalah menghirup bau.

Novel ini juga unik, karena menggunakan wine sebagai unsurnya. Sering saya menemukan novel yang mengambil minuman kopi atau cokelat sebagai unsurnya, namun berbeda dengan novel ini. Berkat novel ini, saya menjadi tahu ternyata jenis wine itu bermacam-macam.

Namun saya kerap bingung dengan percakapan tokoh, karena hanya diceritakan melalui sudut pandang pengamat. Beberapa kali saya terbalik memahami siapa yang mengatakan ini, siapa yang mengatakan itu.

Secara keseluruhan novel ini bagus, deh! Saya rekomendasikan buat kamu penggemar kata-kata manis.

"Ia bukannya sulit melupakan. Ia hanya tidak ingin melakukannya." (137)