Laman

Sabtu, 27 Desember 2014

Teruntuk Kawan Seperjuanganku

Tahun terakhir di SMA emang beda banget sama tahun-tahun sebelumnya.

Inget nggak kalian? Dulu waktu tahun pertama kita masih kuthul, masih masa orientasi dengan sekolah dan teman-teman, masih alim-alimnya deh. Kita masih jadi anak pendiem. Masih canggung tiap mau nimbrung sama obrolan temen-temen yang lain. Paling pol ya kita ngerumpinya sama temen-temen yang udah kenal dari SMP.

Tahun kedua kita mulai berbaur dengan semua teman. Kita mengenal satu sama lain, bahkan ada yang kenalannya kebablasan sampai cinlok juga. Langgeng yaa kalian :D Tahun kedua inilah kita jadi sering main bareng, ke rumah salah satu temen bareng.. Sampai acara layatan pun dijadiin agenda main. -_-

Sabtu, 20 Desember 2014

Semalam Sebelum Terima Rapor

Undangan untuk Wali Murid

Esok adalah hari di mana saya akan menerima laporan hasil belajar saya selama satu semester terakhir. Deg-degan? Jujur saja, nggak begitu. Saya nggak begitu khawatir dengan nilai-nilai yang tercetak di kertas esok hari. Saya lebih khawatir pada perasaan orang tua saya saat pertama kali membuka laporan hasil kegiatan saya yang berkedok sekolah itu. Takut dimarahi sih nggak, ya. Tapi pasti sedih aja kalau sampai orang tua kecewa dengan hasil saya yang sebenernya sangat amat mereka harapkan.

Selama SMA, tiap orang tua saya mengambil rapor, saya pasti ikut berangkat. Berbeda dengan waktu SD dan SMP dulu. Malahan, waktu SD dulu, entah kelas berapa saya lupa, saya sendiri yang mengambil rapor saya. Bukan karena wali murid yang berhalangan hadir, namun memang yang diharuskan berangkat untuk mengambil rapor adalah sang siswa sendiri.

Senin, 15 Desember 2014

Cari Pengalaman Baru di Gembira Loka Zoo


            Sebagai Kota Pelajar merangkap Kota Pariwisata, Yogyakarta menyimpan banyak tempat yang berkaitan dengan sarana pembelajaran yang juga dapat dijadikan tempat untuk berekreasi. Salah satunya adalah Gembira Loka Zoo. Berlokasi di sekitar aliran sungai Gajah Wong yang berada di pusat kota, membuat kebun binatang ini strategis untuk dikunjungi masyarakat. Setiap harinya Gembira Loka Zoo selalu ramai dikunjungi oleh semua kalangan baik wisatawan domestik maupun mancanegara, apalagi jika akhir pekan dan hari libur. 
            Semakin hari, semakin banyak perubahan yang terjadi di Gembira Loka Zoo. Penambahan satwa-satwa baru semakin menarik pengunjung untuk datang berkunjung. Seperti Jackass Penguin yang baru hadir pada tahun 2013 lalu dari Singapura. Menurut petugas, penguin adalah satwa di Gembira Loka Zoo yang memerlukan perawatan paling mahal. Hal ini dikarenakan makanan penguin yaitu ikan khusus yang harus diimpor dari luar negeri sehingga memerlukan biaya yang banyak.

Senin, 08 Desember 2014

Terka

Mungkin dibalik satu suka
Tersimpan seribu asa
Mungkin kami saling membaca
Meski beribu kata hingga alinea
Mungkin kami saling memperhatikan
Tanpa pernah bermaksud demikian
Mungkin kami saling berharap
Dapat melengkapi setiap derap
Mungkin
Mungkin hanya aku
Hanya rasaku
Mungkin baginya hal itu biasa
Siapa menduga?
Mungkin saja..

Kunjungan Pertama dan Terakhir ke Karta Pustaka

"Bapak pernah ke Karta Pustaka?" tanyaku sore itu di antara riuhnya hujan.
"Apa?" Wajah Bapak menunjukkan kebingungan. Derasnya suara tetesan air hujan rupanya menghalau kalimatku.
"Bapak pernah ke Kartaa Pustakaaa?" ulangku pelan.
"Oh. Ya pernah. Itu tongkrongan Bapak waktu SMP dulu. Deket SMP 8 itu, Jalan Jenderal Soedirman. Nek masih ada, lho."
"Masih ada, Pak. Tapi sudah pindah."
"Oh, ho'o toh? Ke mana?"
"Ke Jalan Suryodiningratan. Saya tadi ke sana, Pak."
"Suryodiningratan...? Dulu Bapak sering ke situ, baca buku, nonton film. Yaa... Zaman nggak ada hiburan dulu.."
Batin saya, kenapa Bapak tidak pernah mengajak saya ke situ?
"Tapi sekarang sudah mau tutup, Pak."
"Waahh...."
...

Rabu, 26 November 2014

Teguh

Pagi belum juga nyata
Mentari berada di peraduannya
Bahkan rembulan malu-malu
Mengintip dari balik awan

Dirimu belum juga beranjak
Tetap bertahan dalam pendirian
Meski teracuhkan
dan hilang ditelan diam

Letihmu belum juga nampak
Betapa peluhmu membasahi raga
Namun setiamu masih juga di sana
Menanti seuntai kata

Apa pula yang kau tunggu?
Jawabnya masih juga serupa
Seperti tiga kali musim gugur yang lalu

Apa pula yang kau harapkan?
Tak bosankah pada penantian?
Hingga jatuh jua
pada lubang yang sama

Untuk apa menanti benang terurai
Lebih baik mengurai kata
Untuk kau ucapkan padaku

Minggu, 23 November 2014

Karut

siapa yang datang?
di antara puluhan derap kaki
siapa yang kembali?
menaruh sekali lagi harapan yang lama pergi

waktu terus berlalu
namun memori itu melekat di sana
detik terus berdentang
namun sapa itu masih sama

mungkin memang aku yang kembali
tanpa mau kuakui dengan pasti

senyum itu masih sama
harapan bersua masih ada
namun debar itu telah sirna
terbiasa kosong untuk waktu yang lama

(di antara memori dan bulir bening. 22-11-2014)

Minggu, 12 Oktober 2014

Biar Mata Buta, Jangan Sampai Hati Mati

Sore itu, seusai pulang dari kantor tempatku bekerja, aku menyempatkan diri mampir ke taman kota. Sejujurnya, tempat ini kurang layak untuk disebut taman. Selain tanaman yang amat jarang tumbuh, hanya ada beberapa kursi permanen yang tersebar taman ini, yang bahkan catnya sudah mengelupas di sana-sini. Menurutku, hanya satu hal yang membuat taman ini cukup pantas disebut taman, yaitu keberadaan air mancur yang berdiri di jantung taman. Yah, meskipun airnya sering macet.

Kuhela napas panjang berulang kali. Kedatangan adikku tadi siang di kantor mengejutkanku. Bukan hanya karena parasnya yang bertambah cantik, namun juga kabar berita yang dibawanya. Baru kusadari sudah lama sekali aku tidak bersua dengannya.

“Bagaimana kabar Mas? Sudah dewasa, sudah mapan, apakah juga sudah mendapat pendamping?” suara lirih adikku menanyaiku tadi siang.

“Mas baik, Mir. Bagaimana denganmu? Mas masih betah sendiri, Mir,” jawabku seadanya.

“Mira senang Mas baik-baik saja. Mira juga baik. Bapak dan ibu di rumah juga baik,” ujarnya dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.

Hening. Aku terdiam. Ingatanku melayang sejenak ke rumah mungil di desa yang sudah bertahun-tahun kutinggalkan dan tak pernah kutengok lagi. Rumah yang mengisi masa kecilku, dengan sepasang sosok tua yang selalu mengulurkan tangan mereka ketika aku terjatuh. Namun semua berubah saat ego masa mudaku lebih menguasai hatiku. Bapak tidak setuju dengan pilihanku sehingga aku memutuskan untuk pergi.


Rabu, 17 September 2014

Begadang Dahulu, Masuk Angin, Eh Masuk PTN Kemudian

Huaaaaahh!!!
*ngolet* *ngeretekin jari*

Hayoo.. Siapa yang semalem begadang? Begadangnya gara-gara apa dulu nih? Semoga kalian bedagang untuk hal-hal positif ya ^_^  Kalo aku sih, begadang buat baca ulang buku-buku kelas satu-dua dulu. Eh, tapi aku nggak seratus persen begadang sih, soalnya pasti ketiduran dengan posisi pegang buku -_-

Hmmm.. *sigh*

Jadi anak kelas tiga SMA susah, ya?

Hm.. Ini tahun terakhirku menjabat sebagai pelajar. Syedih.. Tapi masa' mau jadi pelajar terus, ya enggak kan? Menurutku, pengalaman selama menjabat sebagai siswi kelas tiga SMA itu bedaaaaaa banget sama waktu dulu kelas tiga SMP. Berbalik 180 derajat! Terletak di kuadran 2! *apasih* Jadinya aku ngerasa maklum aja sama anak-anak SMA yang masuk berita gara-gara bunuh diri *eh

Baru aja ngerasain jadi anak kelas tiga SMA selama kurang lebih 3 bulan, kantung mataku udah berkembang biak. Belum lagi, jerawat menyebar di mana-mana. Ditambah, rambut pada rontok karena kebanyakan mikir dan lupa jadwal keramas. *iyuh xD Aku juga sampe lupa gimana rasanya tidur siang tanpa beban pikiran.


Selasa, 19 Agustus 2014

(Masih) Galau

Haloooo.. Lama bangeeeett aku nggak ngeblog :'( Ceritanya aku lagi sibuk menuntut ilmu nih.. ceritanya.. Tapi masih aja disambi online sana-sini, disertai menghindari yang namanya mampir di blog '-'

Selain sibuk menuntut ilmu, aku juga lagi sibuk pake begete mikirin masa depan, mikirin besok mau masuk jurusan apa di mana.. Sungguh, men. Ini menghantui banget. Pasti kalian bosen deh, baca tulisanku yang ini-ini melulu topiknya :( Ya udah, deh.. Ikhlas aja ya bacanya, itung-itung pahala nambah statistik :P

Sungguuuuhhh aku pusiiiingg.. Mungkin pusing ini adalah pusing yang paling pusing yang pernah aku rasakan. Eh, tapi, kayanya pusing pas skripsi lebih parah deh, ya...

Suatu kali aku udah ngerasa cocok banget sama jurusan A, sampe aku berdoa siang malem biar bisa lanjut di situ, sampe di segala sosial media aku bikin status jurusan itu *alay* ehhh.. Seminggu kemudian keyakinanku bisa goyah lagi gara-gara kena angin. Terus nentuin jurusan lain lagi. Ehh.. Bisa goyah lagi gara-gara liat iklan apa di media apa. Sampe-sampe aku curhat di sosial media kaya gini juga '-' Sampe-sampe semua orang aku jadiin tempat mengeluh, tempat meratap, dan tempat tidur (?). Entah, aku lagi absurd banget.

Mungkin orang-orang terdekatku udah bosen banget denger pertanyaanku, "Besok aku bagusnya lanjut ke mana ya?" Aku tau kok, kalian bosen. Tapi aku tidak akan berhenti! Huahahahabsurd -_-

Sebenernya aku tanya kaya gitu nggak berarti aku bener-bener pengen kalian jawab. Aku cuma pengen kalian baca, kalian denger, kalian mengerti segala kepusinganku. Iya, emang aku kalo lagi susah itu bagi-bagi. Giliran seneng aja enggak.

Tapi sunggguuuhh.. Aku pusing banget.

Menurutmu, besok aku bagusnya lanjut ke mana ya?

Minggu, 27 Juli 2014

LEBARAN! ^_^

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya meminta maaf yang setulus-tulusnya, apabila saya sering menulis sesuatu yang menyinggung, tidak berkenan di hati, atau tidak pada tempatnya. Saya juga meminta maaf jika saya sering memberi komentar yang tidak pantas dan tidak pas. Saya bukan manusia yang sempurna, bukan manusia tanpa dosa, maka dari itu saya meminta maaf kepada para pembaca semua.

Minal aidzin wal faidzin. Taqoballahu minna wa minkum, siamana wa siamakum. 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H :)

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jumat, 25 Juli 2014

Sejuta Rasa di Hati~

Andai engkau tahu
Bila menjadi aku
Sejuta rasa di hati
Lama tlah kupendam
Tapi akan kucoba mengatakan
Kuingin kau menjadi milikku
~
(Dari Hati - Club 80's)

Aku memang sudah memilikimu.
Tapi pada kenyatanya aku tidak benar-benar memilikimu.

Aku yakin,
Setiap nafasmu berhembus sejalan denganku.
Seluruh jiwa, raga, dan kasihmu, akan kau persembahkan untukku.

Namun nyatanya,
Pelukmu, tidak pernah benar-benar menghangatkanku.
Candamu, tidak pernah benar-benar menghiburku.

Seakan, kasihmu hanya abu-abu.
Datang, namun tak benar-benar kuat untuk menjadi satu.

Aku tahu,
Tlah kau coba membahagiakanku.
Tlah kau kerahkan keringatmu untuk membantu menghidupiku.
Namun, bukan keringat, materi, maupun pundi-pundi yang kubutuhkan.
Bukan sebatas kewajiban, formalitas, atau status yang kudambakan.

Tapi, kasihmu.
Sayangmu.
Cintamu.
Pedulimu.
Rangkulmu.
Hangatmu.
Tanggung jawabmu.
Serta waktumu.
Yang benar-benar nyata.
Aku butuh itu.

Picture : this link

Rabu, 23 Juli 2014

Meraba Masa Depan

Hmmhh...
Masa depan emang misteri banget. Kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi esok hari, dua jam ke depan, bahkan tiga detik dari sekarang. Mau nggak mau kita harus siapin dari sekarang.

Aku bukannya mau ngomongin masa depan dalam lingkungan religi; yang mana kita harus selalu beribadah dengan betul-betul kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kita nggak tahu bakal mati kapan. Bukan juga dalam lingkungan asmara; yang mana kita harus tahu bibit, bebet, bobot calon pendamping hidup. Tapi masa depan yang sangat amat pelik (menurutku, saat ini), yaitu (musti di-bold, underline, italicmau ngapain setelah lulus SMA?

Bagi pelajar SMA kelas akhir seperti aku ini, pasti pertanyaan ini amat sangat membayangi. Ia datang ketika kamu makan, menyusup ketika kamu nyenyak bermimpi, mengintip ketika kamu mandi... Mau nggak mau aku harus membagi pikiran antara persiapan lulus SMA dan kegiatan setelahnya.

Pilihan jawaban standar yang biasanya ada ketika pertanyaan tersebut mengudara yaitu 1.Kuliah, 2.Kerja, 3.Kawin. 3K! Tapi, tentu saja pilihan terakhir langsung aku eliminasi. Nggak seru bingits, kan, kalo usia produktif dan pikiranmu masih kreatif cuma dibuat ngurus keluarga?! Masa sih, mau melepas kebebasan secepat itu? Ya jangan kelesss..

Tinggal 2 pilihan. Kuliah atau kerja? Jujur, aku sih nggak masalah sama keduanya. Kuliah? Oke aja kalo lulus tes. Kerja? Oke aja kalo ada lowongan. Masalahnya adalah... Adakah lapangan kerja yang mau nerima lulusan SMA jurusan IPA yang IPA-nya nggak jago-jago amat kaya aku?! Jarang.. Kalo mau langsung kerja sih enaknya dari SMK. Sayang, aku dulu nggak boleh masuk SMK. Mengapa oh mengapaaa...

Mau kuliah? Oke aja kalo keterima di perguruan tinggi sesuai keinginan. Gagal di jalur Undangan? Masih bisa lewat SBMPTN. Gagal lagi? Masih bisa jalur Mandiri di PTN masing-masing. Masih gagal? Usaha di jalur tes PTS atau PTK yang gelombangnya banyak banget. Gagal lagi? Yah.. Anda belum beruntung. Coba lagi.. tahun depan.

Tapi masalah yang lebih membingungkan daripada keterima atau nggak di perguruan tingginya itu adalaaaahh... mau masuk jurusan apa? fakultas apa?

Di postingan yang lalu yaitu INI aku mengutarakan kebingunganku sama cita-cita sendiri. Terus sekarang apakah daku udah nemu? Hm.. aku masih meraba-raba, sih.

Aku pengen kerja di penerbitan. Kayaknya seruu :3 Penerbitan buku, novel, majalah, koran, apapun deh! Jadi redaksi, editor, penulis, proofreader, atau tukang bikin kopinya juga nggak apa-apa buat permulaan ._. Tukang bikin kopi juga halal kok. Apalagi kerjanya di penerbitan; yang artinya dekat sama buku. Yap, karena aku suka baca buku!

Kalo nggak, ya kerja di perpustakaan. Biar apa? Tetep. Deket sama buku! Kan jarang tuh, ya, lulusan Ilmu Perpustakaan sekarang? Kali aja peluangku masih banyak.

Atau, kerja di media boleh juga. Koran juga media massa. Atau di media elektronik, hmm.. bolehlah. Jadi jurnalis? Hm.. Cuman sayangnya aku nggak ngerti bidang broadcasting ._.

Tapi. Terkadang keinginan tidak sejalan dengan kenyataan. Kakek, nenek, dan ortu ngebebasin pilihanku. Aku boleh ngelanjutin ke mana aja, terserah aku. Tapi.. Tiap aku menyatakan keinginanku untuk ke jurusan ini, malah ada yang dilarang. Loh? Katanya bebas?

Aku disuruh ngelanjutin ke bidang kesehatan. Soalnya prospeknya bagus. Banyak peluang, pasti kerja. Apalagi aku punya banyak channel kalo masuk bidang kesehatan, pasti keterima deh! Ibu kerja di apotek, tanteku dokter dan buka klinik sendiri. Apalagi ketambahan adikku yang lagi sekolah kejuruan farmasi. Tambah lengkap! Tapi kadangkala.. Kalo kita dikasih kemudahan, biasanya malah nyari yang susah. Emang kampret, sih. Tapi ya mau gimana? Aku nggak suka kesehatan. Nggak suka. Nggak mau. Nggak asyik. Nggak mau aku masuk bidang itu, meskipun ada buku-bukunya juga (?)

Aku bilang mau nerusin ke Sastra. Tapi nggak boleh sama Nenek. "Ngapain masuk sastra? Cuma jadi sastrawan.". Loh? Sastrawan kok cuma, sih? Masuk sastra nggak cuma belajar nulis keles, Mbah. (Coba aku bisa bujuk beliau T.T) Masuk Sastra Indonesia kan nggak cuma belajar sastra, tapi juga belajar bahasa. Kan ada peluang kerja di penerbitan buku :3 Apalagi kalo masuk Sastra Inggris, kita nggak cuma belajar sastra dan bahasa tapi juga belajar budaya mereka. Kali aja kan aku malah jadi Menteri Luar Negeri atau Duta Besar :3

Terus, lain waktu, aku bilang mau nerusin ke Ilmu Perpustakaan. Sama Kakek nggak boleh. Katanya, "Ngapain? Cuma bersihin debu dari buku-buku doang." Astaga.. Saaabaaar. Sabar. Buku di perpustakaan kan nggak cuma ditata asal. Pasti ada ketentuan buat ngaturnya kan. Iya, aku pernah baca novel tentang itu. Judulnya, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Di situ diceritain kalo buku-buku di perpus itu disusun pake perhitungan Klasifikasi Desimal Dewey. Entah, aku juga belum begitu tau itu apaan. Makanya aku tertarik masuk ke Ilmu Perpustakaan. Tapi sayang, PTN di Jogja yang menyediakan jurusan ini cuma UIN.

Habis akal nyuruh aku ke bidang kesehatan, beliau-beliau nyuruh aku masuk Teknik Informatika. Lha? Dipikir gampang apa? Ngotak-atik jaringan komputer aja belum pernah. Mreteli mouse aja belum pernah. Pake software di komputer aja sebatas internetan, ngetik tugas, dan main Spider Solitaire.. Aku ini masih termasuk gaptek, Pak, Bu, Mbah.. Tolong, deh -_-

Gagal maksa aku, mereka belok nyuruh ke Ilmu Komunikasi. Ya keles. Ngomong sama tetangga aja aku jarang, gimana mau ke Ilmu Komunikasi? Jujur aja ya, aku lebih bisa berkomunikasi dengan media daripada langsung. Gampang gugup. Kalo di twitter mah, cerewet. Kalo ketemu langsung, .............hening. Tapi aku sedikit tertarik sih, di bidang ini. Karena apa? Yak! Bisa kerja di media massa, seperti yang kukatakan di atas. Kalo kerja di media elektronik? Hm.. pikir-pikir dulu deh. Masalahnya, aku nggak mau kalo harus nampang di layar televisi buat jadi pembawa acara. Malu booo'! Ngumpulin berita dan bikin artikelnya sih masih mau. Tapi kalo jadi kameramen atau fotografer? Oh.. Aku masih harus belajar ekstra. Soalnya aku nggak bisa broadcasting dan fotografi.

Ohh.. Masuk Desain Komunikasi Visual? Itu lagi.. Gambar aja harus sesuai mood. Otak-atik corel draw aja masih yang dasar-dasar.  Eh, ternyata PTN di Jogja juga belum menyediakan. Kalo kepepet, harus masuk Pendidikan Seni Rupa dulu biar dapet materi ini. Hufftt... Kemampuan gambarku aja masih dikit, masa mau jadi guru gambar? :(

Masuk ke Akuntansi? Pengen sih. Dikit. Abisnya pelajaran ekonomi dulu aja aku malesan, apalagi sekarang yang lebih kompleks. Padahal lulusan jurusan Akuntansi kan banyak yang cari ya. Selama masih ada duit, Akuntansi tetep kepake. Peminatnya juga buanyaaak banget. Coba deh ya, andai aku bisa lolos ke STAN :3

Emang nyusahin ya diriku ini, banyak syaratnya -_- Tapi ya mau gimana. Milih jurusan emang kaya milih jodoh sih. Keinginan harus ada, kemampuan harus bisa. 

Menurutmu, aku harus bagaimana? Kudu piye?

Hmmhh.. Berkali-kali aku menghela napas panjang lho nulis ini. Padahal ya udah disambi nyari-nyari bocoran jurusan kuliah di google. Udah sambil berdoa nyari petunjuk. Tapi harus usaha lagi rupanya, soalnya belum dapet pencerahan padahal udah bayar listrik. Harus tanya ke orang tua, kakek, nenek lagi rupanya, biar diberi restu :'(

Hm, udah ah curhatnya. Bye.


Lajeng, yang dirundung galau.

Kamis, 10 Juli 2014

'Mereka' Benar-Benar Ada? [Resensi : Sunyaruri]


Judul : Sunyaruri
Penulis : Risa Saraswati
Penerbit : Rak Buku
ISBN : 620175597-9
Tebal : ii + 333 hlm
Cetakan : II, Maret 2014
Harga : Rp 65.000,-


Pertama kali tahu kisahnya Risa Saraswati yang punya beberapa teman di dimensi lain itu gara-gara baca sebuah thread di kaskus yang di-share di whatsapp oleh seorang kawan. Pertama baca, aku langsung merinding, men! Benakku bertanya-tanya, ini beneran nggak, sih? Agak percaya - nggak percaya..

Tetapi, saat kemarin aku pergi ke Togamas buat cuci mata, aku malah menemukan novel ini. Agak ragu, beli nggak ya... Akhirnya setelah semedi di lift, aku beli. Tapi aku salah beli -_- Ini kan novel ketiga. Novel pertama, Danur, dan yang kedua, Maddah, malah belum kebeli duluan. Tapi nggak apa-apa.. Tetep aja aku beli ._.

"Ke mana perginya mereka, sahabat-sahabat kecilku yang lagi-lagi terlalu sibuk mencari teman-teman baru? Sesal terasa begitu menyesakkan dadaku, tatkala kuingat lagi bahwa semua ini karenaku, karena ulahku. Seandainya tak usah kuceritakan bagaimana kisah kami, seandainya tak kugambarkan sosok Peter yang jahil, William yang bijaksana, Hans dan Hendrick yang periang, Janshen yang menggemaskan, Norma yang anggun, dan Marianne yang keras kepala, mungkin kalian semua tak memanggil-manggil nama mereka setiap malam sebelum terlelap tidur, dan berharap ketujuh sahabat kecilku datang menemui kalian dalam mimpi yang indah."

Sunyaruri berkisah tentang Risa yang sedang gelisah, galau, gundah gulana karena sahabat-sahabatnya yang berbeda alam mendadak meninggalkannya. Risa beranggapan, mungkin mereka meninggalkannya karena mereka marah kepada Risa karena Risa bercerita kepada semua orang tentang mereka melalui buku pertamanya, Danur.

Tapi, di buku ini tidak hanya memuat kisah Risa dengan sahabat-sahabatnya saja. Risa juga menambahkan beberapa kisah tentang 'orang' lain yang dijamin bikin merinding, tapi mengharukan. Seperti misalnya kisah Ain yang selalu membawa boneka cantik berambut pirang dalam bab 'Tapaki Jejak Karina', kisah si kembar lucu Mara dan Dara dalam bab 'Pelipur Lara', kisah Kartika si penyuka Hujan dalam bab 'Senandung Hujan', dan ada beberapa lagi kisah yang lainnya.

Sejujurnya, aku nggak tau buku ini termasuk dalam genre apa. Horor/hantu? Bisa jadi. Tapi kisahnya nggak seperti buku-buku horor lainnya. Buku ini nggak menceritakan tentang hantu yang menakutkan, tapi bercerita tentang persahabatan manusia dengan makhluk lain yang berbeda dimensi. Ini pertama kalinya bagiku membaca buku dengan jenis ini.

Aku suka banget membaca buku ini! Sebenernya buku ini mirip kumpulan cerita gitu, tapi saling ada kaitannya. Aku suka gaya Risa memanusiakan 'mereka'. Cara Risa bertutur bikin aku tenggelam dan nggak mau ninggalin buku ini sebelum selesai. Narasinya nggak bikin bosen. Apalagi saat baca kita disuguhi ilustrasi-ilustrasi yang keren banget. Kavernya juga bagus, menarik dan bikin penasaran. Kita bakal ngerasain sensasi membaca yang berbeda. Mulai dari takut, ngeri, tapi ada beberapa bagian yang bikin ketawa, bahkan terharu hingga menitikkan air mata. Gado-gado!

Mara & Dara

Ngeri :|


Sebagai penulis yang baru aja memulai karirnya di dunia kepenulisan, tulisan Risa patut diacungi jempol. Tulisannya rapi, jarang aku menemukan typo. Tapi aku nggak suka dengan paragraf-paragraf yang dicetak miring, nggak nyaman dibaca. Mending dilurusin aja.

Ada satu bagian di buku ini yang bercerita tentang adanya ide untuk memfilmkan kisah ini. Untungnya nggak jadi. Kalo jadi, aku nggak mau nonton. Rasanya kasian aja sama mereka yang dibuat dalam bentuk film ._.

Setelah selesai membaca Sunyaruri, aku sering kepikiran Peter, Will, Hans, dan yang lainnya. Aku selalu bergidik ngeri membayangkan kalo mereka malah ngedatengin aku '-' Tapi yang kasian justru mereka sih.. Soalnya kalo mereka benar-benar ngedatengin aku, yang ada malah aku nyuekin mereka, soalnya aku nggak bisa 'liat'. :\

Dan sejujurnya, aku nggak mau kisah ini berhenti di Sunyaruri. Aku masih penasaran (padahal Danur dan Maddah aja belum baca -_-). Tapi Risa sudah menegaskan bahwa ini buku terakhir. Okelah kalo begitu. Daripada sahabat-sahabat Risa nggak mau ketemu Risa lagi kan :(

Tapi sampe detik ini, aku masih bertanya-tanya. Ini beneran nggak, sih? Apakah keseluruhan cerita yang ada dalam buku ini benar-benar kenyataan dan Risa pernah mengalami semuanya? Ataukah ada bumbu-bumbu fiksi di beberapa bagiannya? Entahlah..

Yang pasti, buku ini recommended banget!! Kalian harus baca!! Soalnya nggak hanya nilai persahabatan yang kalian dapat, tapi juga agar kalian lebih menghargai hidup dan selalu berbuat baik agar tidak menyesal ketika semua sudah berakhir. 

Rating : 4 dari 5 bintang

Jumat, 04 Juli 2014

Butuh Bacaan!

Akhir-akhir ini aku lagi kepingin baca banyak buku. Buku yang kumaksud di sini tentu saja novel dan sejenisnya, ya, bukan buku pelajaran ._. Aku sadar kok kalo aku sudah menginjak kelas 12 SMA. Tapi... jujur aja, aku belum siap mental menghadapi UN. Rasanya aku nggak rela kalo liburan kali ini dipake untuk mempelajari materi kelas 12. Mungkin nanti... Hm.. *tunda terus*

Liburan kali ini aku hanya ingin membaca banyak novel. Di rumah, lagi ada 2 novel nganggur belum tersentuh. The Cuckoo's Calling karya Robert Galbraith a.k.a JK Rowling dan Second Life of the Honest Man karya John Cameron. Untuk yang terakhir tadi itu adalah novel berbahasa Inggris. Ini kali pertama aku membaca novel berbahasa asing. Eh ralat, aku belum membacanya, ding. ._.v Aku dapetin novel itu gratis, lho. Gara-gara Giveaway di Goodreads. Hihi.. Pernah aku bahas di sini.

Minggu lalu, akhirnya aku pergi ke perpustakaan daerah untuk meminjam novel, berhubung aku pengen baca tapi nggak mood meneruskan kedua novel tadi. Akhirnya, aku pinjam Rumah Kaca karya Pram. Beberapa waktu lalu, aku pernah baca 2 seri Tetralogi Buru yang lain yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Jejak Langkah belum aku temukan karena nggak ada yang meminjami *ups* Tapi ternyata aku hanya mentok di halaman 130 dari 500-an halaman yang ada. Aku kesulitan memahami jalan ceritanya, dan waktu yang kubutuhkan kurang untuk menamatkannya (perpusda hanya memberi 1 minggu sekali pinjam). Rasa-rasanya, Rumah Kaca nggak memiliki ikatan dengan 2 seri pertama yang aku baca. Entahlah, mungkin karena sudut pandang yang berbeda dan porsi Minke yang sedikit.

Setelah kukembalikan, aku meminjam buku lain. Supernova #4: Partikel karya Dee. Aku udah lamaaaa pengen baca serial Supernova ini, tapi baru punya kesempatan sekarang, itu pun dimulai dari seri yang keempat. Tidak apa-apalah.

Tadinya, aku beranggapan bahwa Supernova adalah novel dengan tema cinta seperti novel Dee yang berjudul Perahu Kertas. Jujur saja, aku nggak membaca sinopsis di kaver belakang novel saat meminjam. Aku cuma memiliki intuisi bahwa novel itu bagus *ceilah bahasa gue* karena sering dibicarakan di twitter.

Selesai dengan Partikel, aku terpukau... Haha, lebay banget. Tapi, beneran. Jarang aku nemu novel seperti ini ditulis oleh penulis Indonesia. Aku kesulitan menentukan temanya, mungkin science-fiction, supranatural, atau mungkin spiritual (?). Gaya tulisan Dee yang jelas dan tidak bertele-tele menghanyutkanku. Aku jadi nggak sabar untuk melanjutkan ke seri Supernova selanjutnya!

Di sela-sela kegiatan baca novel, aku merenung. Aku sadar pilihan bacaanku akhir-akhir ini berbelok arah. Biasanya, aku hanya membaca novel-novel lokal bertema percintaan remaja. Beberapa novel remaja berjejer memenuhi rak di rumah. Aku suka tema ini karena ini termasuk bacaan ringan. Kisahnya seputar kehidupan remaja sehari-hari. Namun kini diriku bosan. Novel cinta selalu berputar-putar pada hal yang itu-itu saja. Hanya berbeda bingkai. Novel cinta juga kebanyakan happy ending. Membuat kita selalu mengimpi-impikan mendapat nasib seperti tokoh tersebut. Tema cinta menjadi sangat membosankan, terlalu dangkal.

Aku pernah mencoba menjajal tema lain seperti fantasi. Tapi, aku beranggapan cuma ada satu novel fantasi yang paling luar biasa: Harry Potter. Selain itu, aku nggak pernah tertarik. Baca Percy Jackson aja cuma bisa yang seri ketiga.

Tema lain seperti detektif pernah aku coba baca, seperti novel Sherlock Holmes dan komik Detective Conan. Tapi, rupanya aku cuma bisa kebingungan dengan setiap kode yang ada di petualangannya. Biasanya, aku baru bisa mengerti kisahnya jika sudah dibuat tampilan visual atau film. Padahal seharusnya, cerita dalam bentuk teks lebih bisa dimengerti, ya.. Hm..

Akhirnya aku menjajal tema fiksi ilmiah. Menurutku ini tema yang unik. Memadukan iptek dengan sedikit fantasi. Aku jadi pengen menyelami tema ini sekarang! Novel sci-fi pertama yang kubaca itu The Hunger Games. Keren banget, bro!

Jadi, apa kalian bersedia memberiku rekomendasi novel yang asyik? :-)

Kamis, 03 Juli 2014

The Liebster Award Perdana



Halooo, semuanya!
Pada sehat, kan? Masih kuat puasa?

Kemarin aku buka blog dari hape. Nah, aku nemu komentarnya Asy-syifaa (namanya susah banget!) di postingan terakhir di blog. Sehabis baca, aku bingung. Apaan nih? Berhubung cuma online dari HP, makanya aku belum ngecek maksud komentar tersebut. Akhirnya, sekarang sempat juga buat stalking. Upss..


Terima kasih Syifa untuk kadonya. Sudah aku terima dengan baik. :)

Aku nggak menyangka bisa dapet The Liebster Award :') Soalnya jadwal ngeblog-ku nggak menentu. Aku juga jarang blogwalking. *nggak niat*

Pasti ada yang bertanya dalam hati, The Liebster Award itu apa sih? Nah, aku tadinya juga nggak tau. Ini kali pertama untukku dapet award ini! *nangis haru* Tapi setelah aku pergi ke klinik Tong Fang blogwalking ke beberapa blog, akhirnya diriku (kira-kira) sudah menemukan jawabannya. The Liebster Award adalah penghargaan kepada sesama blogger/ajang silaturahmi dengan blogger lain dengan cara berantai gitu. Kita dapat kado dari satu orang, kemudian kita juga memberikan kado kepada orang lain.

The Liebster Award memiliki beberapa aturan, yaitu sebagai berikut :
1. Post award di blog kamu.
2. Sampaikan terima kasih kepada blogger yang mengenalkan award ini dan link back ke blognya.
3. Ceritakan 11 hal tentang dirimu.
4. Jawab 11 pertanyaan yang diberikan untukmu.
5. Pilih 11 blogger lainnya dan berikan mereka 11 pertanyaan yang kamu inginkan.

Baiklah. Langsung saja, ya.

11 Hal Tentang Diriku
  1. Namaku Lajeng Padmaratri. Di rumah dipanggil Ajeng, tapi di sekolah dipanggil Lajeng. Aku lebih suka panggilan kedua :3 Soalnya (agak) nggak pasaran, sih. Hahaha xD
  2. Anak pertama dari 2 bersaudara yang lahir tanggal 6 Agustus 1996. Bentar lagi ulang tahun, loh! :3 *kode banget*
  3. Menggemari dengan amat sangat segala hal berbau Harry Potter. Harry Potter Freaks, Potterhead, Pottermania, Potter-girlfriend....
  4. Hobi baca novel. Bercita-cita suatu saat nanti bisa bikin perpustakaan.
  5. Penyanyi kamar mandi.
  6. Berambisi untuk jadi penulis tapi sering nggak punya ide untuk nulis. Makanya mulai dari blog dulu ._.
  7. Nggak suka makan daging & sayur, tapi kepengen gemuk.
  8. Pemalu, pendiem kalo sama orang yang baru dikenal. Susah mengawali pembicaraan -_-
  9. Egois, dingin, cuek ._. Golongan darah B, sih.
  10. Ingin keliling dunia tapi benci tinggi dan nggak suka air. Gimana, dong?
  11. Socmed addict. Terutama facebook dan twitter.

Sekarang lanjut untuk menjawab pertanyaan dari Syifa :D
1. Tiga kata tentang diri kamu?
Cuek, dingin, pemalu.
2. Dua hal yang kamu sukai dari diri kamu?
- Kurus, karena bisa nylempit (?) di ruang-ruang sempit gitu, nggak butuh ruang banyak.
- Tinggi badan yang sedang-sedang saja.
3. Tiga hal yang tidak kamu sukai dari diri kamu?
- Kurus, capek keles di-bully terus -_-
- Nurut sama orang, gampang percaya sama omongannya.
- Pemalas.
4. Arti seorang sahabat menurut kamu?
Sosok yang 'digunakan' untuk melakukan hal gila bersama.
5. Pandanganmu terhadap blog?
Blog adalah buku digitalku. Aku suka bercerita di situ tentang berbagai hal. Berhubung aku susah menyampaikan sesuatu secara lisan, makanya aku sering mengungkapkannya lewat tulisan di blog.
6. Siapa yang paling menginspirasimu untuk menulis blog?
Dulu sih, Raditya Dika lewat buku pertamanya, Kambing Jantan. Tapi aku jarang buka blognya ._. Sekarang yang bikin aku semangat ngeblog adalah Alitt Susanto (@shitlicious). :D
7. Jenis blog yang disukai dan kenapa?
Blog personal soalnya berisi cerita di kehidupan sehari-hari dan blog buku soalnya aku sering baca resensi novel dari kawan blogger.
8. Manfaat blog menurut kamu?
Menyampaikan pendapat yang sulit diutarakan lewat lisan, menambah teman, bertukar informasi, latihan menulis yang suka dibaca orang banyak.
9. Suka sama blog Raditya Dika? Iya, kenapa? Nggak, kenapa?
Dibilang suka, tidak. Dibilang tidak, suka. Soalnya aku jarang mampir. Tapi aku suka gaya menulisnya, enak dibaca dan kocak.
10. Menurut kamu, blog aku gimana?
Berhubung aku baru kali ini mampir ke blog Syifa, menurutku blogmu sudah bagus, rapi, nggak berlebihan. Jangan lupa ikannya diberi makan, ya :D
11. Kenal aku? Coba deskripsikan aku menurut pandanganmu. Kalau belum kenal, ceritain aja apa yang kamu tentang ASYSYIFAAHS.
Baruuuu saja aku kenal kamu, Syifa. Menurutku, kamu orangnya asyik, enak diajak ngobrol, gampang dapet temen banyak, soalnya tulisan kamu enak dibaca :D

Daaaan yang terakhir, aku akan memilih 11 blogger 'beruntung' yang akan mendapatkan The Liebster Award dariku...

Ini dia 11 pertanyaannya. Mohon dijawab, ya ^^
1. Sejak kapan mulai nulis di blog?
2. Pertama kali kenal blog dari siapa/mana?
3. Kenapa tertarik blogging?
4. Punya berapa blog?
5. Manfaat blog menurutmu?
6. Apa keinginanmu yang ingin sekali kamu wujudkan dalam waktu dekat?
7. Suka baca buku? Kalo iya, siapa penulis favoritmu dan apa salah satu judul bukunya yang paling fenomenal? Kalo enggak, kenapa?
8. Tempat yang pengeeeeen banget kamu kunjungi?
9. Bagaimana pandanganmu terhadap 'oknum' yang kenal di dunia maya dan kemudian pacaran?
10. Tipe blog yang kamu suka kaya gimana sih?
11. Menurutmu, blog-ku gimana? Kurang apa? Minta saran, ya :D

Sekian dariku. Tolong dijawab, yaa :D Terima kasih ^^

Minggu, 22 Juni 2014

I'll Miss You, Elvacto!

Pernah nggak sih, kalian merasa nyaman banget sama suatu hal, tapi dalam waktu dekat, mau nggak mau kalian harus berpisah dengan hal itu?

Itu yang aku alami saat ini.

Hari terus berganti.. Nggak kerasa bentar lagi udah mau pembagian rapot aja. Takut banget rasanya mau tau hasil terakhirku selama di semester 4 ini.. :'(

Tapi yang bikin aku lebih sedih adalah bentar lagi aku bakal pisah sama teman-teman Elvacto (Eleven Exacta Two) di SMAN 1 Wates. Waktu kok cepet banget sih berlalu, sampe aku bernafas aja nggak kerasa. Tapi bener deh.. Kelas XI IPA 2 yang aku huni ini bener-bener menyenangkan. Aku sih nggak punya alasan yang bisa kuutarakan biar kalian mau baca tulisanku yang satu ini, soalnya aku juga nggak tau apa ini bakal jadi tulisan yang menarik atau enggak. Yang pasti aku cuma ingin cerita tentang betapa konyol dan gokilnya kelasku yang tinggal sebentar lagi kuhuni ini.

Sebelum lanjut ke bahasan selanjutnya, aku rekomendasiin buat dengerin lagunya Ipang yang judulnya 'Sahabat Kecil' dulu deh biar mantep :)

Pertama kali bergabung di kelas XI IPA 2, aku sebenernya nggak begitu yakin bakal punya temen yang akrab. Mengingat dulu di kelas X aku susah adaptasi x_x Tapi begitu kenal sama Elvacto (yah, meski harus PDKT beberapa bulan dulu), akhirnya aku bisa akrab sama temen-temen Elvacto.

Elvacto terdiri dari 23 ABG (Anak Bosen Gila) absurd, dengan watak, perilaku, dan hobi yang berbeda. Kali ini bakal aku ceritain sedikit satu persatu dari mereka sesuai sudut pandangku. Aku tulis sesuai urutan nomer KTP absen mereka.

1. Aini
Aini ini orangnya baik, bisa 'ngemong' (belum nemu Bahasa Indonesia yang pas --"), dewasa, peduli sama temen, dan asyik banget deh kalo diajak main. Aku suka berteman sama dia soalnya kaya dijagain gitu deh :') Tiap main ke Jogja seringnya sama dia. Ngafalin jalan-jalan juga gara-gara dia. Beli novel baru sama dia. Ngabisin duit juga sama dia --" Tapi, Aini kalo lagi bete atau mood-nya ancur, kelakuannya bisa lebih sangar dari badak bercula satu. Bayangin, aku pernah dilempar tempat pensil sama dia! Untung aku jago ngeles jadi nggak kena :p Aini juga hobi galau, tapi untungnya galaunya nggak lebay sih '-' Aini sekarang lagi naksir sama Mas-yang-jual-Ramen-di-deket-rumahku :p Ntar kalo dapet, bagi dua ya, Ai :p Aini juga suka ngeblog kaya aku. Yah, meski harus numpang wifi-an di rumahku -_-

2. Alvi
Alvi ini orangnya asyik, heboh, dan selalu jadi bahan bully. Dengan badannya mungil itu, dia selalu diejekin di kelas dengan bermacam ejekan, mulai A-Z. Tapi aku tau, Alvi rapopo :') Nggak ngebully Alvi, nggak rame! Di balik polahnya yang pecicilan itu, ternyata Alvi bisa nulis. Aku pernah baca cerpennya, bagus banget! Entah dia emang biasa bikin cerpen bagus, atau aku aja yang kebetulan baca cerpennya yang paling bagus ._.v

3. Anita
Ini dia, teman sebangkuku! Anita dan aku sama-sama kurus, jadi meja kami serasa luas banget xD Anita ini orangnya baik (terpaksa bilang), cerewet, heboh, alay, lebay, kaya bocah, dan suka banget teriak-teriak sampe kupingku budeg. Nggak heran sih, dia sendiri juga agak budeg --' Anita ini kalo lagi bahagia bisa salto sambil push up dan teriak-teriak nggak jelas. Dia suka nyanyi dengan suara sumbangnya di depan kelas. Tapi dia pernah bilang, kalo dia udah berusia 17 tahun nanti, dia nggak akan nyanyi di depan kelas lagi. Untungnya aku ingat perkataan dia itu!! Huahaha xD Tapi aku nggak suka kalo Anita lagi galau. Kadang galaunya heboh sampe teriak-teriak gaje, tapi kadang galaunya diem sampe nangis sesenggukan gitu '-' Aku tak mau melihatmu sedih, Nit. Sini aku suapin. '-' Anita ini juga suka ngeblog lho, tapi yang berkunjung ke blog-nya cuma aku wkwk :p Anita juga hobi makan kuaci. Dia emang siluman hamtaro.

4. Ane
Ane ini orangnya baik, agak pendiem, tapi sebenernya asyik juga. Ane ini hobi banget minta maaf untuk hal-hal kecil. Kadang-kadang aku jengkel juga --" Tapi sebenernya Ane anak baik :3

5. Dimas
Dimas ini menurutku orangnya asyik, lucu, tapi pendiem (?) :| jujur aja aku jarang ngobrol sama dia.. Tapi aku suka liat Dimas waktu main softball! Bikin jengkel gitu gayanya -_-

6. Dian
Kadang aku lupa kalo punya temen namanya Dian. Soalnya di kelas, aku biasa manggil dia Icun. Entah darimana asal mula panggilan tersebut.. aku cuma ngikut. Icun ini orangnya unyu banget :3 cantik, tapi kurang tinggi xD manis, tapi idungnya nggak keliatan '-' *aku juga ding* Icun orangnya baik, asyik, tapi kadang nyebelin -_-

7. Elma
Ini dia anak rantau dari Sidoarjo! Elma ini orangnya baik, asyik, lembut, hobi telat, tapi kadang oon gaje gitu juga -_- Elma itu gampang banget diajak main, kemanapun dia mau. Dan yang pasti, Elma itu yang paling punya 'modal' di antara teman-teman yang lain. Pernah ya, dulu waktu awal kelas sebelas, kan disuruh bikin administrasi kelas gitu karena dilombain, nah semua anak pada bikin di sekolah, eh dia pulang duluan terus pas berangkat lagi bawa makanan segrobak. Ckck

8. Fariz
Fariz ini orangnya nyebelin, kadang sok tau, sok bener, sok pinter, tapi sebenernya baik dan asyik juga. Kalo udah ngobrol sama Fariz, biasanya aku kebanyakan nggak ngerti soalnya dia lebih tau banyak. Eh, tapi aku nggak tau juga yang dia omongin itu bener apa nggak ._. Pokoknya kalo ngobrol sama dia, aku kebanyakan kalahnya, eh ngalah ding. Tapi ada satu hal yang nggak akan kulupa gara-gara Fariz. Pernah ya, aku pinjem novel Hunger Games punya Kakaknya Fariz. Abis baca, aku ketagihan dan pinjem novel seri keduanya: Catching Fire, lagi-lagi punya Kakaknya Fariz. Abis itu masih penasaran dan pengen baca novel seri ketiga: Mockingjay, eh malah nggak dikasih pinjem. Saking penasarannya aku sama kelanjutan ceritanya dan sifatku yang nggak sabaran juga, akhirnya aku nyari novel Mockingjay di beberapa toko buku di Jogja sama Aini. Tapi malah nggak dapet-dapet :( Akhirnya aku liat Mockingjay di Gramedia Malioboro, eh ternyata Boxset! Aku galau nggak nemu Mockingjay yang satuan. Akhirnya setelah dirayu Aini, aku beli tuh Boxset Hunger Games. Padahal kan seri 1-2 aku udah baca punya kakaknya Fariz! Asdfghjkl Aku ngabisin duit 300.000, soalnya sebelum itu aku beli novel The Cuckoo's Calling juga di Togamas -_- Sebenernya yang harus aku salahin itu Aini juga sih >.<

9. Fathan
Ini dia owner-nya toko jilbab ternama di Indonesia! Fathan itu orangnya cerewet banget. Entah dia ini cowok atau cewek, kok cerewet banget. Dia sebenernya baik, asyik, tapi kadang bikin orang lain emosi --" Fathan kalo lagi ngomong kaya dikejar kereta, cepet banget sampe kadang aku ha-he-ho nanggepinnya -_-"

10. Aryo
Aryo itu orangnya pinter, baik, tapi agak pendiem. Dia ini kadang aku gangguin kalo waktu UTS & UKK, aku serang pertanyaan bertubi-tubi xD Tapi nggak lagi-lagi kok, aku tobat '-'

11. Lajeng
Ini aku sendiri ._. Aku nggak bisa menilai diriku sendiri.. Biarlah nanti kawan-kawanku yang menilaiku di kolom komentar :D

12. Lukman
Lukman ini orangnya nyebelin banget! Omonganya ceplas-ceplos, ngawur, tapi kadang ada benernya juga. Dia ini hobi banget nyuruh aku buka KopSis, padahal ntar jajannya juga dikit doang -_-

13. Lu'lu'
Namanya harus pake tanda petik dua kali loh! Temenku ini orangnya pinter banget, baik, hobi telat, dan dewasa. Jarang banget aku liat dia galau atau sedih gara-gara pacarnya.. Kayanya awet terus gitu. Atau.. mungkin dia sebenernya pinter menyembunyikan kesedihannya, ya? Hmm..

14. Mifta
Mifta itu orangnya asyik, baik, pinter, dewasa, tapi kadang gaje juga. Mifta ini kadang bisa bijak gitu deh.. Padahal kalo dilihat dari umurnya, dia masih anak ingusan -_- Tapi Mifta kadang juga suka galau. Dan kalo galau, dia bisa diem seharian. Nggak seru deh..

15. Nashrul
Ini dia ketua suku Elvacto! Dia ini kadang bertanggung jawab, ya namanya juga ketua suku. Kadang dia baik, suka nraktir :p Dia ini otaknya lumayan pinter sebenernya, tapi entah mengapa dia lebih pinter curangnya ._. Tapi aku paling jengkel sama kumisnya, dan juga hobi ngupilnya. Ieuww..

16. Indah
Indah ini orangnya gaje, sering bikin jengkel, bikin naik darah, tapi pinter. Mungkin dia ini DDR.. '-' Kalo ngomong sama dia bisa hhhhhh *sigh* capek dan cepet emosi. Abisnya dia ini polos banget dan ah entah deh apa yang dia pikirin -_- Indah sering banget jadi bahan bully di kelas. Abisnya oon sih.. Padahal sebenernya dia baik dan lucu.

17. Sari
Sari ini punya saudara kembar, tapi untung nggak sekelas. Mereka sama-sama pinter banget dan heboh. Tapi Sari lebih heboh sih.. Dia ini kalo udah ngebahas Korea, nggak akan selesai deh. Dia juga sok bisa bahasa Korea gitu. Tapi dia ini asli pinteeeeerr banget! Mungkin dia punya warisan otak dari Hermione Granger :') Sari ini gampang banget dapet nilai sempurna di kelas. Tapi kalo cuma dapet nilai 8, dia bisa nangis loh. Tapi setiap orang ternyata punya kelemahan dan kelebihan.. Sari emang pinter, tapi dia ini ceroboh banget. Tali sepatu sering lepas, males dibenerin; buku paket penuh coretan catetan, bukannya nyatet pake buku tulis; uang kas kelas asal dimasukin tempat pensil, nggak ditata -_-

18. Riyam
Riyam ini orang yang paling aku nggak suka di kelas! Aku nggak suka abisnya dia sok. Haha bercanda. Aku emang suka pura-pura jahat sama dia. Tapi bercanda doang kok, beneran. Riyam ini orangnya baik, pinter, tapi nyebelin. Hobinya cari gara-gara sama aku. Dia pernah bolos sekolah cuma gara-gara hujan! *ketawa jahat* Eh, Riyam ini penggemarnya Putu Gede, lho.. Ituu pemain bola U19.

19. Rosa
Rosa ini anaknya baik, tapi agak pendiem. Dia ini kadang gaje juga. Hobinya ndengerin lagu campursari -_- Dia juga sama aja kaya Riyam, ngefans sama pemain bola U19 -_-

20. Talitha
Talitha itu orangnya asyik, baik, pinter, tapi kadang gaje. Dia kalo ngomong sering nggak jelas gitu. Apalagi ditambah pake behel, tambah ribet ngomongnya. Aku sering kasihan kalo liat dia lagi makan, kesusahan! Aku suka banget ngebully Talitha. Apalagi kalo dia lagi galau karena gebetannya. Pasti aku tanya, "Gebetan yang mana, Tal?" :p Abisnya gebetannya banyak banget. Dari temen sekecamatan, temen seangkatan, kakak kelas, adik kelas, penjaga sekolah, tukang parkir, semuanya digebet! Ckck.. tobatlah, Tal.

21. Yosafat
Yosafat itu anaknya baik, asyik, tapi kadang nyebelin. Yang paling bikin aku sebel adalah, aku beberapa kali ngasih jawaban ke dia pas ulangan tapi nilai dia jauh lebih bagus dari aku. Sakitnya tuh di siniii... *nunjuk hati* :'( Tapi Yosa itu baik. Elvacto beberapa kali pesta melon dan semangka hasil kebun punya Yosa :3 Yosa juga yang bikin aku hobi judi -_- Eh, nggak ding. Cuma main doang, nggak pake taruhan '-' Dari poker sampe remi, dia yang ngajarin ._.

22. Yudha
Yudha itu orang yang paling sering telat di kelas. Maklum, dia kan PNS, masuk siang -_- Dia ini orangnya baik, asyik, tapi nyebelinnya minta ampun. Aku ilfeel kalo dia mulai niruin gaya panggung Duta SO7 di depan kelas. Aku juga sebel kalo dia bisa nonton SO7 manggung -_- Dia kalo ada acara main sekelas paling punya modal, tapi kalo pas jajan sering ngutang *ups :x

23. Zikrul
Last but not least! Zikrul ini anaknya baik, pinter, dan pendiem. Dia ini ketularan virus Koreanya Sari. Zikrul ini kemungkinan anak yang paling rajin, soalnya sering jadi anak pertama yang dateng ke kelas di antara teman-teman yang lain. Abisnya Elvacto ini pada males berangkat pagi, sih. Yang dateng paling pagi juga udah jam 7. Ckck

Hmm.. Capek banget nulis tentang anggota Elvacto yang gaje ini.. Tapi aku seneng! Soalnya selain aku bisa cerita tentang absurdnya kawan-kawanku ini, aku jadi punya catatan yang akan selalu kuingat dan bisa dibaca lagi dan lagi.

Aku nggak akan pernah lupa keseruan bareng Elvacto selama satu tahun ini. Entah kenapa, di antara semua temen-temen kelasku dari jaman SD, cuma Elvacto yang paling seru. Aku bisa akrab sama sebagian besar anggotanya, sering main ke mana-mana bareng, ngerjain tugas bareng, dan bikin marah guru juga bareng :') Waktu pelajaran Bahasa Inggris, biasanya satu meja ada satu buku paket dipake empat orang. Waktu ulangan Fisika, satu kelas sibuk tengak-tengok cari jawaban. Waktu pelajaran Ketrampilan bukannya bikin pesawat malah nonton film. Waktu pelajaran Seni Rupa bukannya masuk kelas malah main laptop sambil internetan. Waktu istirahat, pasti mereka kompak nyuruh aku buka Koperasi -_-

Bukannya aku pilih-pilih temen dan nggak mau adaptasi sama yang lain.. Tapi rasanya aku udah nyaman sama kelasku sekarang dan nggak mau ganti temen lagi. Naik kelas tanpa ganti temen bisa nggak sih, Pak Guru, Bu Guru? ._.

Tapi mau nggak mau, aku harus berpisah sama teman-teman di Elvacto. Huaaa.. Satu tahun yang amat sangat menyenangkan! Sayang banget akrabnya baru sekitar pas semester dua, eh sekarang udah harus pisah. :(

Sadar nggak kalo kalian udah baca tulisan sepanjang enam halaman? Ih, ini tuh bisa lebih panjang lagi tau, kalo aku kemarin ikut #ElvacTour #ElvactoDay ke Gua Pindul. Tapi sayangnya aku nggak ikut T.T

Terima kasih untuk pertemanan yang menyenangkan selama satu tahun ini, ya. Aku harap pertemanan kita nggak cuma sampai di sini. Aku minta maaf, aku banyak salah sama teman-teman Elvacto. Sering cuek, pelit, galak, dingin -_- Jangan kapok berteman denganku, ya. Aku akan merindukan kalian :')

Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya
Janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

Selasa, 10 Juni 2014

Terkadang Aku Bertanya

Terkadang aku bertanya-tanya

Di antara tarik-menarik seru dan sifat tak ingin mengalah mereka

Apakah dulu
ketika masih balita
kelakuanku pun sesusah itu untuk diatur?

Namun
Hanya tawa yg ia lontarkan
sebagai jawaban

Terkadang aku bertanya-tanya

Di antara rengekan manja dan sifat cari perhatian mereka

Apakah dulu
ketika masih balita
kelakuanku pun segenit itu?

Lagi
hanya tawa yg ia lontarkan
sebagai jawaban

Terkadang aku ingin sekali bertanya

Di antara riuh tangis dan teriak tanya di mana orang tua

Apakah dulu
ketika masih balita
aku pun bertanya di mana bunda?

Kurasa
aku takkan diberi tawa
Kuyakin
satu kata pun tiada

Minggu, 08 Juni 2014

Akibat Penundaan

Selamat malam para pembaca setia.

*krik*
*hening*
*nggak ada pembaca setia*



Beberapa hari ini, aku nggak nulis di blog, nih. Maaf ya :( Soalnya aku lagi UKK.
*so what?*
*padahal main twitter*


Aku mau cerita. Aku kemarin Kamis UKK Matematika. Jadwalnya sih Matematika sama Seni Budaya, tapi Seni Budaya cuma ngumpulin tugas aja jadi bisa pulang duluan \^^/

Tapi ternyata aku nggak bisa pulang duluan -.-

Lu ngapain? Dihadang penjaga kantin karena ngutang?

Bukan, oy! Lebih parah dari itu. Aku remidi ulangan harian PKn.

Oh. Ya, terus? Bukannya udah biasa?


Sialan.
*backsound lagu The Rain - Terlatih Patah Hati*
*tapi liriknya diganti : Dapet nilai yang pas-pasan, sudah biasa. Remidi tiap ulangan, sudah biasa~*
xD


Jadi gini.
Beberapa hari lalu, aku diminta -lebih tepatnya dipaksa, sih- untuk ikut lomba cerdas cermat koperasi. Aku anak polos bendahara koperasi yang nggak tahu menahu seluk beluk koperasi, yang cuma ikut ekskul koperasi karena males sama ekskul yang lain, dipilih kawanku untuk ikut lomba cerdas cermat. Padahal aku nggak cerdas, apalagi cermat. Aku belum pernah ikut gituan.. Nggak punya pengalaman, dan nggak pede di depan orang banyak.

Tapi aku tetep terima sih. Yah, coba-coba aja. Buat pengalaman gituh. Bertiga, sama temenku dan adik kelasku. Lumayan kan kalo berhasil, aku bisa ngerasain pertama kalinya pegang piala, yah walaupun buat bertiga. Lumayan juga kalo dapet sertifikat, terus bisa dipake tambahan nilai pas daftar PTN. *btw, emang bisa?*

Akhirnya aku dikasih tau apa materi yang diujikan di lomba yang akan digelar tanggal 31 Mei. Dan, wow. Banyak. Banget. Materinya tentang UU Koperasi. Mampus gue. Masalahnya aku nggak bisa -nggak ahli- masalah hafal-menghafal. Berapa lapis? Ratuuusaan!

Aku selalu bersembunyi di balik topeng ANAK IPA kalo ditantang menghafal. Anak IPA (biasanya) identik dengan nggak begitu mahir masalah hafalan, tapi jago kalo bidang hitungan. Nah, masalahnya aku salah persembunyian. Aku nggak bisa menghafal, nggak bisa menghitung juga --" Aku memang kacau.

Akhirnya, semalam sebelumnya, materi menghafal UU yang bikin mata jadi merah itu kita bagi tiga. Tapi tetep semuanya harus dipelajari. Dan apakah aku berhasil menghafalkannya? Tentu saja tidak. Apalagi menghafalnya dadakan. Mana bisa. Apalagi sebelum itu aku didera ulangan harian bertubi-tubi karena udah deket sama UKK. Sama sekali nggak konsen menghafal UU.

Dan parahnya lagi, pada hari Minggu kuturut Ayah ke kota di mana lomba cerdas cermat dilaksanakan, aku harusnya ada ulangan harian PKn. Dan itu  materinya lumayan sama kaya materi lomba, sama-sama bikin pening. Ulangan PKn itu berarti harus menghafalkan setiap materi, setiap kalimat, setiap kata, bahkan titik koma dan harokatnya (?) untuk bisa dapet nilai tinggi. Dan Alhmadulilah, aku selalu berhasil melewatinya.

Tapi karena dapet tugas buat ikut lomba, aku jadi ijin sehari nggak ikut pelajaran. Dan otomatis aku nggak ikut ulangan harian. Otomatis juga aku nggak belajar.

Di sinilah awal penderitaanku benar-benar dimulai *sebenernya dari tadi sih*.

Setelah semalaman mencoba menghafal plus bangun sebelum subuh buat mencoba menghafal lagi, akhirnya aku cuma berhasil hafal satu per sepuluhnya aja -_- Nggak banget emang. Langsung deh aku berangkat ke sekolah, takut telat. Eh, ternyata pada belum dateng.

Akhirnya pukur 7 setelah semua datang dan pembina juga siap, kami bertandang ke Pemda, tempat dilaksanakannya lomba. Dan kalian tahu apa yang terjadi??

Penjaga di sana bilang kalo lombanya ditunda. Lombanya ditunda. Ditunda. DITUNDA. *emang sengaja diulang biar dramatis* Katanya pemberitahuan sudah diantar tadi pagi. Sudah diantar dan kami nggak tahu, men! Dan aku udah nggak mau tahu lagi ditunda sampe kapan. Aku udah mutung, kagol. Entah kedua kata itu maknanya apa kalo ditranslate ke bahasa Indonesia..

Aku kembali ke sekolah dan DOR! Kalo aku masuk kelas, berarti aku ikut ulangan PKn. Padahal aku belum belajar sama sekali. Ooohhh...

Akhirnya aku bolos jam sebelum pelajaran PKn buat belajar dulu, mumpung surat ijin masih ada. Hihi curang banget. Padahal materi PKn itu ya, njelimet banget buat diapalin. Harus perkata. Aku mencoba sekuat tenagaku untuk menghafal, ditemani kawanku yang ikutan bolos xD

Dan tibalah waktu ulangan harian...
Aku bisa ngerjain sebagian besar, alhamdulilah! Tapi aku gagal total di nomor terakhir. Dan aku akhirnya harus remidi. Remidi. Ngulang ulangan. Sendirian. Asdfghjkl

Akhirnya aku mendekam di kantor guru seusai UKK Matematika hari Kamis lalu demi memperbaiki nilaiku. Hm..

Semua ini gara-gara lomba cerdas-cermat yang ditunda. Mana tahu kan kalo bakal ditunda. Ahh, jengkel banget rasanya.

Tapi aku mencoba sadar bahwa setiap kejadian ada hikmahnya. Setiap yang diturunkan Allah pasti ada manfaatnya.

Dan aku belajar dari kejadian ini, bahwa seharusnya aku harus rajin belajar sebagai pelajar. Harus belajar dari jauh-jauh hari sebelum ulangan. Jadi kalo ada ulangan dadakan nggak akan kaget. Kalo aku belajar PKn jauh-jauh hari, pasti aku nggak akan remidi meski udah ditambah hafalan materi untuk lomba.

Jangan pernah nunda pekerjaan. Karena kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi esok hari.

Sekian ceritaku kali ini. Semoga kalian dapat mengambil hikmahnya. See you!

Jumat, 23 Mei 2014

Antara Cita-Cita dan Realita

Siang tadi sepulang sekolah, aku duduk manis di depan meja laptop. Sambil mepet-mepetin laptop ke tembok gitu, biar sinyal Wi-Fi-nya nyantol. Ya maklum, pelajar kere yang nggak punya modem gini, yang kepikiran ya cuma nyolong sinyal Wi-Fi punya klinik sebelah. Ihik..

Abis nyantol tuh sinyal, aku jalan-jalan dari satu blog ke blog lain, istilahnya Blogwalking gitu. Buat silaturahmi sama tetangga-tetangga blog. Emang udah kebiasaan gitu kalo main internet pasti buka blog. Kalo nggak ada ide buat ditulis, maka aku baca-baca aja tulisan teman-teman. Kali aja terus dapet inspirasi. Tapi tenang, aku nggak copas lho. :))

Setelah beberapa halaman aku lewati, akhirnya aku tiba di rumah online-nya kawan sebangkuku, namanya Anita Rahayu. Iya, emang blog punya doi sengaja nggak aku kunjungin sejak pertama kali aku buka Google Chrome. Abisnya doi belum pernah ngasih komentar di tulisan blog-ku, jadi males gitu deh. #Kode

Nah, di blog punya doi, aku nemu tulisan INI. Tulisannya emang acak-acakan gitu *digebug*, tapi doi bikin aku sadar juga kalo masalahku sama dia mirip. Kita sama-sama gaje. Kita punya banyak cita-cita, banyak mimpi, banyak harapan di masa depan, tapi (kayanya) usaha kita buat meraih itu semua sangat amat kurang sekali.

Kamu, iya kamu. Kamu pasti punya cita-cita kan? Nah, gimana rasanya kalo suatu hari usaha yang kamu lakukan untuk meraih cita-cita itu kurang maksimal. Pasti sakit, kan?

Jadi gini.. Sebenernya aku belum tau cita-citaku apaan. Ehm, kalo kamu juga kaya gitu, berarti, SELAMAT! Anda termasuk orang-orang yang kece! Eh, bukan. Sebenernya aku kasihan sama diriku sendiri. Aku nggak (mungkin, belum) tahu apa cita-citaku, apa kemampuanku, apa yang aku pengen jalani besok kalo udah dewasa..

Kalo ditanya, "Cita-cita kamu apa?". Aku bakal diam selama seminggu, terus baru jawab, "Masuk surga."

Pasti semua orang punya cita-cita. Aku juga punya.

Lho, tadi katanya belum tahu?! Gimana sih?

Aku punya cita-cita. Tapi sampe sekarang masih ganti-ganti gitu. Belum punya keinginan yang kuat dalam satu bidang.

Dulu waktu masih usia TK, aku kepengen jadi orang kantoran. Gara-gara liat Tanteku kerja di Pemda, aku jadi kepengen. Kayanya keren gitu, pake seragam terus duduk di depan komputer. Dulu aku mikirnya orang kantoran itu kerjaannya enak, cuma tanda-tangan doang. Sekarang aku tahu kalo mau tanda tangan doang jadi artis aja -_-

Masuk SD, cita-citaku ganti. Aku kepengen jadi guru matematika. Abisnya dulu nilai matematikaku bagus, jadi kepingin gitu ngitung-ngitung terus. Sekarang di SMA nggak lagi. Malah menghindar. Makin gede, otakku makin bisa nalar juga. Ternyata matematika nggak sekadar berhitung satu sampai sepuluh, tapi ada aplikasinya. Ya, kamu taulah, yaa.. Kaya logaritma, fungsi, limit, turunan, suku banyak, suku dikit, suku dayak, suku asmat.... Asdfghjkl.

Di SMP, kepingin jadi pelukis. Soalnya dulu (menurutku) hasil gambarku bagus. Ya, itu penilaian subyektif sih. Siapa juga yang nilai hasil kerjanya sendiri nggak bagus?! Abis itu ganti pengen jadi pengusaha.. Entah pengusaha apa aku lupa juga -_-"

Di SMA sekarang ini, cita-cita aja susah dipikirin, apalagi mikirin pacar... Eh.. Salah fokus.

Semakin dewasa kita, semakin banyak beban pikiran.

Sekarang aku nggak cuma mikirin kesenangan atau kepengin kaya orang lain buat nentuin cita-cita. Aku harus ngeliat bibit-bobot dulu. Iya, kaya milih suami. Eh, pacar aja, deh. Keinginan harus ada, kemampuan harus bisa. Milih A tapi nggak suka ya buat apa? Mending kalo suka tapi belum bisa, itu bisa dipelajari.

Nah.. Masalahnya aku nggak tau passion-ku di bidang apa. Aku suka beberapa hal, tapi nggak bisa-bisa banget, nggak canggih. Aku suka ngegambar. Tapi bagusnya cuma kalo mood juga bagus. Aku suka nyanyi. Tapi di kamar mandi doang. Aku suka nulis. Tapi sering mentok di tengah perempatan. Aku suka berhitung. Tapi kalo ngitung bintang nggak sanggup. Aku suka ngomong di depan orang banyak, tapi cuma kalo udah deket doang sama tuh orang baru bisa lancar ngomongnya. Aku tertarik sama bidang kuliner, tapi aku cuma suka makannya, nggak bisa masaknya. Aku suka olahraga, tapi sebenernya cuma suka liat pemainnya yang kece doang, sih..

Tapi satu yang aku yakini aku bisa.

Apaan?

Bernafas buat kamuuu~

Hingga tulisan ini diturunkan, aku masih galau mikirin cita-cita. Abisnya aku nggak punya bidang yang aku geluti bener-bener dan nggak ada nilai akademikku yang sempurna. Kalo ada sih, udah aku targetin untuk masa depan. Sumpah, rasanya hidupku datar-datar aja. Pengen tapi nggak kepo. Bisa tapi nggak canggih. Hmm... Untungnya Wi-Fi punya klinik sebelah nyala terus (?).

Apalagi kalo ngeliat nilai rapor semester kemarin, bikin aku down lagi. Bikin aku pusing lagi buat mikir masa depan. But, life must go on. Bumi nggak akan nunggu kamu untuk ngikutin doi jalan.

Untuk yang terakhir di tulisan gajeku kali ini, aku ingin berterimakasih pada orang yang bikin kutipan ini:

Kita harus jatuh untuk bisa bangkit lagi.

See you!

Selasa, 20 Mei 2014

Pagi!

Pagi ini aku terbangun dengan lelah.

Matahari rupanya sudah tinggi, entah dibantu siapa ia sudah mencapai puncak itu. Kokok ayam jantan sudah tak terdengar sejak beberapa waktu lalu. Mungkin ayam juga terlalu lelah menjalani rutinitasnya membangunkan umat manusia, akibat keseringan begadang demi menggulir timeline. Hanya alarm yang masih bersedia berteriak demi majikannya terjaga.

Mata belum terbuka, namun tanganku sudah meraba sisi tempat tidurku. Indraku mencari benda pipih keras yang mengaduh nyaring. Dapat. Lalu jemariku yang sudah terlatih memencet tombol di sisi benda itu agar raungannya berhenti.

Sesaat kemudian.. Mungkin beberapa menit setelahnya, akhirnya mataku membuka dengan susah payah. Suara-suara di dalam kepalaku menyuruhku untuk terlelap kembali, namun kucoba berontak.

Lalu datang kilasan-kilasan mimpi semalam.

Aku bermimpi sedang bercengkrama dengan teman-temanku. Ada sahabatku, ada juga kamu. Kamu, iya kamu. Iya, kamu yang di situ. Aku heran juga mengapa kamu bisa mampir di mimpiku. Padahal, kita hanya teman. Ehm.. Iya, kan? Tidak lebih, kan? Oke stop.

Aku heran kamu bisa mampir ke mimpi(-mimpi)ku. Padahal kita cuma teman biasa. Kita bukan sahabat. Kita tidak pernah mengobrol berdua dengan intens. Kita tidak pernah main bersama. Bahkan aku tidak pernah memperhatikan raut wajahmu dengan detail. Tapi kamu ada di mimpiku. Dengan porsi cerita yang besar di sana.

Namun seringkali, seseorang yang hadir di mimpi kita bahkan belum pernah kita temui. Aku heran. Lalu apakah orang itu nyata, atau hasil rekayasa otak semata?

Masa, sih?
Atau... Kamu memikirkanku sebelum kamu tidur? Ya, Tuhan. Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Senangkah? Untuk apa? Toh, kita hanya teman biasa. Sedihkah? Biasa saja. Toh, kehadiranmu di mimpiku tidak merugikanku.

Atau.. Kamu datang karena sejujurnya aku yang meminta? Mungkin kamu mampir karena hati kecilku berkehendak begitu? Tapi, untuk apa aku meminta. Toh, kita hanya teman, kan?

Entahlah.

Namun aku tetap harus berterima kasih padamu karena sudah meramaikan acara malamku, meski harus meninggalkan jejak ketidakpastian.

Minggu, 18 Mei 2014

Kecintaanku Terhadap Buku

Selamat pagi!

Selamat Hari Buku Nasional!
Oke, sebenernya aku tau kalo aku telat. Hari Buku Nasional udah dirayain kemarin, 17 Mei. Tapi berhubung baru sempet nyantol ke internet sekarang, jadi nggak apa-apa ya telat dikit.. Cuma telat 9 jam dari tanggal 17 kok :p

Tapi sebenernya di dalam hatimu kamu nyalahin aku kalo telat ngucapin selamat Hari Buku Nasional nggak, sih? Atau sebenernya kamu lupa kalo kemarin itu Hari Buku Nasional? Atau jangan-jangan kamu malah nggak tahu kalo kemarin itu adalah Hari Buku Nasional? Ya ampun, masa nggak tahu? Oke, aku kasih tahu aja. Hari Buku Nasional Indonesia dirayakan setiap tanggal 17 Mei setiap tahun. Awalnya, pada 17 Mei 1980 Perpustakaan Nasional di Jakarta sana mencanangkan tanggal tersebut sebagai Hari Buku Nasional. Biar apa? Biar masyarakat Indonesia nggak kudet dan suka baca buku, dong! Eh, tapi kenapa disebutnya Hari Buku Nasional, ya? Kenapa bukan Tanggal Buku Nasional? Nggak penting juga kali, ya.. :p

Tapi rupanya tujuan yang diharapkan dari penetapan Hari Buku Nasional belum sepenuhnya terlaksana. Buktinya :
1. Masih banyak orang yang nggak suka baca buku
Sebagai pelajar, tugasku nggak susah-susah amat sebenernya. Cuma belajar dan baca buku. Wajib baca buku pelajaran biar bisa nyantol kalo guru lagi ngejelasin pelajaran di depan kelas. Tapi aku sih masih susah kalo disuruh rutin baca buku pelajaran. Paling pol ya baca buku pelajaran kalo mau ulangan aja *ups ._.
Taaapiiii.. Kalo baca novel aku suka banget! Bisa nih cek akun goodreads-ku. Emang sih belum banyak buku novel yang kubaca, tapi pasti ada perasaan bahagia gitu tiap baca novel :D Ada rasa bahagia saat melahap kata demi kata di novel yang aku pegang, pegangnya aja harus hati-hati, takut rusak.. Dan aku nggak mau cuma sekadar menikmati kata-kata di buku orang, aku harus bisa merangkai kata-kataku sendiri :')

Kalo aku baca buku pelajaran masih susah tapi kalo baca novel gampang, ada juga temen-temenku yang baca novel aja males. Padahal kan ya baca novel itu seru. Bisa menyelami kehidupan orang lain, ngambil hikmah di setiap kisah.. Seru banget, kan? Tapi masih aja ada yang nggak suka baca..

Ada juga beberapa orang tua temen-temenku yang nggak ngebolehin anaknya baca novel (termasuk nenek-kakekku) -_- Lho, apa salah kami? Membaca kan bagus. -_- Tiap aku pegang novel, aku selalu dimarahin. Terus disuruh belajar. Yaaa ampun, aku kan lagi belajar juga lewat baca novel! Kalo baca novel aja dilarang-larang, terus anaknya malah jadi nggak suka baca, lha gimana mau rajin belajar? Belajar kan bisa lewat baca.. Lha kalo baca yang ringan-ringan kaya novel aja nggak boleh, gimana bisa suka belajar buku pengetahuan? Sumpah aku jengkel sama pola pikir orang kaya gitu. Alhasil kalo baca novel aku harus sembunyi-sembunyi dari kakek-nenek -_- Nyatanya, baca novel udah kulakukan dari SD dan nggak bikin nilaiku jadi turun kok ._.

2. Nggak ada toko buku
Oh em ji heloooooow! Di daerahmu nggak ada toko buku?

Sama!

Di daerahku, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, DIY, nggak ada toko buku. Sungguh merana sekali diriku.. Di kecamatan sebelah ada, sih, toko buku. Tapi buku yang dijual cuma buku pelajaran sama buku umum gitu -_- Malesin banget. Kalo mau beli novel aku harus merantau ke kabupaten sebelah dulu, baru bisa dapet.

Kalo perpustakaan ada nggak?
Nggak. Adanya di kecamatan sebelah. Itupun ribet pendaftarannya, aku jadi males bikin kartu anggota -_-

Kalo taman bacaan?
Dulu sih ada.. Tapi sekarang menyublim. Aku nggak tahu kenapa sekarang udah tutup..

Oh, Tuhan.. Kenapa kecamatanku miskin tempat baca buku?

3. Harga buku mahal
Heran, harga buku sekarang masih mahal aja. Kalo mau beli buku aku harus puasa berhari-hari dulu, terus nabung dari uang jajan, terus berangkat deh ke kabupaten sebelah buat beli buku. Itu pun harus pake bensin! Kebayang betapa berat perjuangan diriku buat ngedapetin buku doang! Apalagi kalo bukunya terbitan penerbit bagus, tambah mahal. Apalagi kalo bukunya terjemahan, tambah mencekik. -_-

Padahal, udah ada pihak yang berani menetapkan Hari Buku Nasional. Tapi fasilitasnya aja kurang. Harga buku mahal, toko buku nggak ada..

Harapanku sih, di setiap kecamatan ada gitu toko buku :3 Yaaa, minimal taman bacaan/perpustakaanlah, biar semua orang tahu bahwa baca buku itu asyik! Baca buku nggak cuma saat ada tugas doang.

Ada banyak nilai yang bisa kita petik dari buku tersebut. Buku itu banyak manfaatnya. Satu buku bisa kita baca ribuan kali, oleh ribuan orang, dan kita kalo minjemin buku bisa dapet ribuan pahala! Enak banget, kan, bagi-bagi ilmu.

Mungkin segini dulu aja ocehanku tentang buku.. Di akhir tulisan ini, aku mau pamerin sedikit koleksi novelku. Eh, tapi itu belum semua. Ada beberapa yang dipinjem temen.
http://instagram.com/lajengpadma
Ada yang bersedia menambah koleksi novelku?